Oke, langsung aja, sesuai judulnya ini adalah prolog iseng Detektif Ujang. Iya, ini cuman iseng aja, gak tau deh bakal gue lanjut jadi naskah baru lagi atau enggak. Sedikit info aja buat yang udah baca-baca detektif Ujang gue yang dari jaman batu dulu gue post sampai udah gue hapus lagi, kali ini gue mau ngebuat sedikit perubahan, enggak banyak kok. Jadi, simak aja dulu nih prolog isengnya, disini gue ceritain gimana pertemuan singkat Ujang dengan asistennya Dio.
Klik Show Untuk Baca Prolognya
Prolog
Pertemuan Ujang dan Dio
Dua tahun yang lalu.
Seperti biasa keributan kecil terjadi di pasar ikan di Jalan Peta. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ujang dan penjual ikan cupang langganannya yang bernama Fandi atau nama gaulnya Mang Fay.
Ujang, Pria yang baru lulus SMA, berbadan kurus dan berambut lurus itu selalu ngotot turun harga kalau lagi beli ikan cupang. Sebaliknya, Mang Fay, yang botak dan bertubuh kekar tidak akan mudah memberikan harga diskon ke Ujang. Sebagai pemuda yang tumbuh di daerah perdesaan yang notabene banyak menghasilkan ikan cupang, Ujang merasa harga yang dipatok Mang Fay itu terlampau tinggi. Padahal sih harganya standar.
“Ya elah Fay, ini ikan cupang kalo di kampung saya paling cuman seribu. Gue kan langganan disini, kok enggak dapet potongan harga sih..” protes Ujang.
“Yee, ini harga standar disini atuh Jang...”
“Jangan sepuluh ribu deh Fay, gimana kalo gue beli dua ribu?” Ujang mulai mempraktekkan teori menawarnya yang memang sudah turun temurun. Iya, harga tawar yang kebangetan, memangkas lebih dari 50% dari harga jual!
“Jiah, dua ribu mah untuk ikan cupang yang kecil disana Jang… Kalo untuk yang akang pegang itu harganya sepuluh ribu. Ya turun seribu deh jadi sembilan ribu aja,” si tukang ikan tidak mau kalah. Sebagai penjual ikan cupang yang berdedikasi ia juga punya prinsip, yaitu pertahankan harga jual selama mungkin.
Ujang mulai memikirkan strategi lain. Saatnya melancarkan taktik kedua. Apa itu?
“Ah kalo gitu enggak jadi deh Fay, gue beli dari tempat lain aja…”
Cerdas. Ini mulai menggerogoti sisi psikologis dimana pergi setelah tawaran ditolak penjual adalah sebuah tindakan spekulasi yang harus dilakukan pembeli agar si penjual tersebut memilih antara “tidak dapat sama sekali” atau “yang penting dapat uang”. Ujang kemudian memberikan botol berisi ikan cupang itu kembali ke penjual dan pelan-pelan meninggalkannya sembari bersiul kecil.
“Tunggu Jang!” teriak Mang Fay.
Ujang menghentikan langkahnya sambil tersenyum senang dan menghampiri penjual ikan cupang itu lagi.
“Ada apa, Mang Fay?” tanya Ujang. Berusaha kalem padahal di dalam hatinya berteriak; Yeaah!
“Gimana kalau sama-sama enak, lima ribu aja?”
Sial. Masih terlalu mahal. Sedangkan anggaran dana untuk beli ikan cupang hari ini tuh cuman empat ribu lima ratus. Ucap Ujang dalam hati.
“Yah elah Fay, itu sih masih kemahalan… Gimana kalo empat ribu?”
“Emm….”
“Empat ribu lima ratus deh Fay, gimana?”
“Oke deal!”
Kesepakatan akhirnya terjalin juga. Ikan cupang serit berwarna hitam yang merupakan idaman Ujang itu berhasil di dapatnya setelah melalui perundingan lima menit dengan Mang Fay. Namun kebahagiaan itu terhenti sejenak setelah Ujang tiba-tiba bertabrakan dengan seorang anak SMA di tengah perjalanannya menunggu angkot. Cowok yang masih labil itu rambutnya cepak dan matanya sipit, bisa dikatakan berwajah oriental nanggung. Kejadian itu membuat plastik ikan cupang yang dipegang Ujang jatuh dan pecah. Sontak Ujang kaget bukan main setelah melihat ikan cupag barunya itu meronta-ronta di tanah.
“Pak minta plastik sama air, cepettt!!!” desak Ujang kepada penjual ikan terdekat.
Ikan cupang baru itu pun selamat dan bocah SMA yang menubruk Ujang lalu minta maaf.
“Hampir aja ikan cupang gue mati!”
“Iya, gue minta maaf banget, Bang…,” kata si bocah SMA.
“Bang? kalo dari logat lo, kayaknya lo anak Jakarta ya?”
“Iya Bang, gue pindahan Jakarta.”
“Oh gitu, sama, gue juga orang Jakarta tapi bokap gue orang Bandung. Gue udah setahunan gitu disini.”
“Enggak nanya, Bang.”
“Kampret. Ngomong-ngomong, ngapain lo lari-lari gitu tadi? Lo bolos ya?”
“Bukan Bang, gue tadi dikejer satpam, dikira maling jambu…”
“Beuh, aneh banget tuh satpam, perkara jambu aja sampe dikejer-kejer sampe ke pasar ikan. Nama lo siapa?”
“Nama gue Dio, Kalo abang siapa namanya?”
“Gue Ujang.”
“Oooo… Wah, tuh satpam kesini Bang, gue kabur dulu yak…”
“Eits, tunggu dulu,” Ujang mencengkram lengan kiri Dio. “Jangan kabur, biar gue yang ngomong sama tuh satpam.”
Seorang pria berkumis lebat dan berbadan buncit berdiri tepat di depan Ujang dan Dio. Kalau dilihat dari ekspresinya, satpam itu seperti tukang jagal ayam.
“Kamu ini, ayo ikut saya ngomong ke majikan kalo kamu yang nyolong jambunya!” seru sang satpam sambil menunjuk Dio. Sesuai janjinya Ujang menjadi penengah di dalam kasus ini. Ia dengan lagak sok kenal sok akrabnya langsung merapihkan seragam satpam tersebut. Merasa jijik, satpam itu langsung buru-buru menyingkirkan tangan Ujang yang sudah merambat ke kerah seragamnya. Iya, itu lebih baik sebelum gosip yang tidak-tidak menyebar.
“Enggak enak ribut disini. Mending gini deh Pak, kita ke TKP aja,” ucap Ujang.
“Oke, mari saya antar.”
“Tunggu dulu, kita jalan kaki?”
“Iya…”
“Sial.”
Ujang dan Dio lalu digiring oleh satpam yang belakangan diketahui bernama Rusli dan ia sudah bapak-bapak. Sepanjang perjalanan menuju tempat kejadian perkara, Pak Rusli banyak curhat tentang kehidupannya sebagai satpam, terutama tentang gajinya yang sudah satu bulan tidak turun-turun dari sang majikan yang namanya Pak Dadang.
Pohon Jambu di Kediaman Pak Dadang
Dua puluh menit kemudian.
“Nah, ini dia tempatnya, rumah majikan saya….”
Sebuah rumah yang memiliki halaman depan yang luas dengan beberapa tanaman hias kini terhampar di hadapan Ujang, Dio dan Pak Rusli. Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu untuk menghadap Pak Dadang yang kebetulan lagi duduk-duduk di teras rumah sambil memandangi burung Beo-nya yang sedang asik mondar-mandir di dalam kandang. Pak Dadang ini berpostur pendek dan kecil, tapi sorotan matanya sangat tajam, belum lagi kerutan di beberapa sisi wajahnya. Sangat berkarisma. Berbeda dengan Ujang yang struktur wajahnya mirip aspal rusak. Bahkan, saking tidak karuannya wajah Ujang itu, ia pernah dikira ilmuwan gagal yang sedang dalam proses akhir menuju gila.
“Ini ada apa ya?” Pak Dadang membuka pembicaraan.
“Eeee, gini Pak, ini dia bocah SMA yang tadi nyolong jambunya Pak Dadang,” jawab Pak Rusli sambil nunjuk ke arah Dio.
“Oh ini orangnya, kenapa kamu nyolong jambu saya?”
“Bukan, Pak, bukan saya…”
“Ah ngaku aja kamu, tadi kan kamu orang yang terakhir muter-muter di depan rumah ini,” Pak Rusli semakin memanaskan suasana. Itu adalah bentuk ketegasannya di depan Pak Dadang biar tidak dipecat. Carmuk! (baca: cari muka!)
“Tunggu dulu,” potong Ujang. “Pak Dadang, bisa minta minum dulu gak? Kalo ada sih sirup…,” Ujang mulai mengeluarkan sisi tak tau malunya.
“Enggak ada minum! Saya lagi kesal ini, jambu yang udah saya tunggu-tunggu sekarang hilang semua!” tegas Pak Dadang. Ujang tertawa lepas, “Haha, nyantai aja kali Pak, yang penting kan bukan kolor bapak yang hilang. Gini, kalau si Dio ini pelakunya, enggak mungkin dia berani kesini lagi, pasti dia lari lagi waktu perjalanan kesini tadi.”
“Oh, benar juga ya,” pikir Pak Dadang.
“Ah itu mah bisa-bisanya mereka aja Pak. Saya tau kalian berdua ini bersekongkol kan?” Pak Rusli kembali memanaskan suasana. Kompor!
“Hmm, tapi Pak Rusli benar juga…”
“Oke, gimana kalo kita sekarang ke lokasi pohon jambu itu aja?” kata Ujang lagi.
“Mau ngapain, Jang?”
“Udah, lo jangan banyak tanya Dio, sekarang kita kesana aja yuk….”
Ujang, Dio, Pak Rusli dan Pak Dadang kemudian berjalan menuju TKP yang sesungguhnya. Pohon jambu yang terletak tepat di sudut kiri halaman depan rumah. Tidak terlalu tinggi, bahkan sangat mudah untuk dipanjat anak SD sekalipun.
“Hmm… Jarak antara pohon jambu ini sama pager jauh juga ya, perkembangan yang bagus. Ah, liat ada jejak sandal anak kecil disini!” Ujang menunjuk tanah di dekat pohon jambu yang kondisinya basah.
“Terus kenapa?” Pak Dadang mendadak kepo.
“Ya itu berarti pelakunya bukan Dio, lagian dia kan pake sepatu. Iya kan?”
“Oh iya, benar juga kamu….,” Pak Dadang menempelkan jempol dan telunjuknya ke dagu.
“Ah, bohong itu Pak, alibi tuh…,” Pak Rusli kembali menjadi kompor.
“Nah, tadi lo muter-muter di depan rumah ini ngapain?” Ujang menatap Dio dengan serius.
“Gue tadi sebenernya bolos, enggak tau mau ngapain gue jadi mondar mandir dimari deh, hehe…”
“Wah, parah lo, bukannya tadi lo ngomong enggak bolos ke gue?”
“Iya, gue bohong Bang, gue bolos maen PS3 di deket sini, hehe…”
“Sudah, sudah, ini kok kalian malah curcol. Jadi yang maling jambu di rumah saya itu siapa?” Pak Dadang geram. Bukannya memecahkan masalah Ujang malah meributkan sesuatu yang tidak penting dengan Dio.
“Tuh, tanya aja satpam anda,” ucap Ujang sambil menebar senyum manisnya.
“Loh, kok tanya saya?” tanya Pak Rusli heran.
“Iya, soalnya ada keganjilan di sepatu kanan anda dan seragam anda. Sepanjang perjalanan kesini tadi, saya terus mengamati anda dari atas sampai bawah,” tutur Ujang lagi.
Pak Rusli semakin bingung dengan ucapan Ujang. Entah mengapa ucapan Ujang itu membuat Pak Rusli jadi sedikit gemetaran.
“Emang kenapa dengan sepatu dan seragam Pak Rusli itu?” lagi-lagi Pak Dadang kepo.
“Liat sepatu kanannya,” Ujang jongkok dan menunjuk sisi kanan dari sepatu sebelah kanan Pak Rusli. “Disini ada bekas tanah yang di lap dengan tergesa-gesa, dari kerapihannya kayaknya di lap pake daun atau semacamnya. Tanah di deket pohon jambu ini basah, jadi pasti nimbulin bekas yang khas yang walaupun kering pasti keliatan, kecuali sepatu itu dicuci”
“Terus seragamnya?” giliran Dio yang penasaran.
“Tadi gue sempet pegang-pegang seragam Pak Rusli dari awal dia datang ke kita kan, Dio? Nah, dibagian kanan perutnya, agak mau ke pinggang tuh agak basah-basah gitu dan berbekas.”
“Haha.. itu kan bisa aja keringat,” sanggah Pak Rusli.
“Iya, keringat yang bau jambu.”
Pak Rusli terdiam sejenak, sementara Pak Dadang melihat satpamnya itu dengan serius.
“Benar apa yang dikatakan dia, Pak Rusli?” tanya si majikan.
“Eeee.. Benar Pak,” jawab Pak Rusli gugup. “Tapi itu keponakan-keponakan saya, Pak. Mereka lagi pengen banget tuh jambu, jadinya saya persilahkan mereka nyolong dimari,” lanjutnya sambil memasang muka memelas. Sekarang Pak Rusli semakin mirip dengan tokoh game, Mario Bross.
“Kenapa kamu enggak minta izin saya?”
“Takut Pak, kan buah jambu itu udah Bapak tunggu-tungguin banget.”
“Ehem…,” potong Ujang. “Masalah udah selesai kan? sekarang saya dan Dio sudah boleh pulang kan?” sambungnya.
“Oh silahkan, terimakasih ya…,” Pak Dadang mempersilahkan Ujang dan Dio pergi.
Sementara Pak Rusli? Ia dihukum Pak Dadang push up seribu kali dan sit up lima ratus kali. Sebenarnya itu masih mending ketimbang tawaran pertama Pak Dadang, yaitu tidak memberikan gaji selama empat bulan. Sungguh malang nasib satpam tambun itu.
Dio Sang Asisten
Ujang dan Dio meninggalkan rumah Pak Dadang dengan rasa puas. Terutama Dio, terhindar dari tuduhan mencuri jambu itu adalah sebuah hal yang tidak bisa diungkapkan kata-kata. Tak bisa dibayangkan kalau ia tidak diselamatkan Ujang tadi, bisa-bisa Dio masuk ke acara kriminal di tv dengan kasus mencuri jambu. Sungguh sebuah tindakan kejahatan yang tidak berkelas.
“Makasih ya Bang tadi udah nolongin gue,” buka Dio. Sumpah, ini percakapan ftv banget.
“Iya, jangan panggil gue Bang, panggil nama aja.”
“Oke deh, ngomong-ngomong lo tadi kayak detektif banget dah, Jang! Keren!”
“Biasa aja, itu udah kerjaan gue selama seminggu ini,” Ujang menanggapi santai sambil menghidupkan sebatang rokok.
“Maksudnya, lo emang detektif gitu, Jang?”
“Yes, ini kartu nama gue,” Ujang memberikan selembar kertas HVS kecil berbentuk persegi panjang.
“Ini kartu nama lo? Kok kertas HVS? Ditulis tangan lagi, enggak elit banget…”
“Untuk ngirit biaya operasi…”
“Bisa aja ngelesnya. Tunggu dulu, Detektif Ujang Stewart, keturunan bule?”
“Bukan, itu nama beken aja, nama asli gue mah Ujang Hidayat.”
“Haha.. Sok kebaratan segala lo Jang!”
“Itu biar musuh gue enggak tau siapa nama gue sebenernya,” Ujang menghempaskan asap rokok ke udara.
“Emang lo punya musuh ya?”
“Enggak sih…”
“Dasar aneh. Terus, disini ditulis tidak menerima kasus pembunuhan….”
“Iya, gue cuman nerima kasus-kasus kehilangan gitu.”
“Detektif tali kasih gitu dong ya, Jang? Hahaha…”
“Kampret.”
“Ngomong-ngomong kalo lo tau si Pak Rusli itu adalah orang di balik pencurian jambu tadi, kok lo enggak langsung ngomong Jang?”
“Haha.. Gue juga harus nganalisis dulu kaleee…”
“Analisis gimana tuh Jang?”
“Gini, gue jabarin satu-satu. Pertama, gue agak heran kok tuh satpam bela-belain ngejer lo, padahal jarak rumah majikannya sama pasar ikan itu lumayan jauh. Itu yang buat gue tertarik untuk ngecek seragam tuh satpam, eh bener aja gue ternyata nemuin jejak air jambu gitu dikit. Tapi itu bisa aja karena faktor lain, gue masih positif thinking sama tuh satpam. Biar gimana pun praduga tak bersalah itu harus tetep ditegakkan, jangan tergesa-gesa ngambil kesimpulan…”
“Terus yang kedua?”
“Kedua, gue enggak tau kalo lo beneran pelakunya apa bukan, makanya gue ngajak ke TKP dulu. Biasanya, pelaku sebenernya tuh takut kalo harus balik lagi gitu. Gue juga sengaja enggak pegang lo dan ngebuka banyak celah selama perjalanan kita ke rumah Pak Dadang itu, tapi lo tetep enggak lari. Itu yang buat gue yakin kalo lo tuh bukan pelakunya…”
“Jadi lo yakin kalo pelakunya Pak Rusli itu karena lo yakin gue bukan pelakunya?”
“Iya salah satunya itu, terus tanah pohon jambu yang basah. Pas gue perhatiin, di sepatu lo enggak ada jejak tanah basah gitu. Jarak antara pager sama pohon jambu juga jauh, jadi enggak mungkin bisa keluar loncatin pager langsung tanpa nginjek tanahnya dulu, kecuali kalo lo sebenernya spiderman sih pasti bisa…”
“Emm, tapi kan jejak-jejak itu aja belum cukup Jang?”
“Iya, gue tau itu belum cukup sampe gue liat ada bekas sandal anak kecil. Kenapa air jambu itu bisa nempel di seragam Pak Rusli? Enggak mungkin kan Pak Rusli ceroboh ngelap tangannya ke seragamnya setelah megang jambu? Jadi, kemungkinannya tuh bocah si pencuri jambu alias para keponakannya Pak Rusli itu ngelap di seragam Pak Rusli setelah dia makan tuh jambu. Kemungkinan itu lebih masuk akal.”
“Hmm, bener juga, gue boleh gabung sama lo gak Jang? Gue tertarik nih sama misteri-misteri kayak gini. Gue sering banget dah tuh baca novel-novel detektif gitu, terakhir gue nonton film detektif di bioskop tuh, judulnya kalo enggak salah detektif tokek yang maen si Sule, bagus tuh…”
“Itu film komedi, bencong! Hmm, tapi boleh juga sih lo gabung jadi asisten gue…”
“Enggak apa-apa Jang, yang penting judulnya asisten detektif! Yah walaupun detektif tali kasih gitu…”
“Kampret. Tapi lo harus selesaiin sekolah SMA lo itu dulu ye, masa asisten detektif keren sekelas gue cuman anak SMA ingusan.”
“Sialan… Beres dah Jang, entar abis lulus SMA gue resmi jadi asisten lo!”
“Satu lagi…”
“Apaan lagi, Jang?”
“Kata lo disekitar sini ada rental PS3 kan?”
“Iya, emang kenapa?”
“Traktir gue maen PS3 dulu sekarang..”
“Lah, entar ikan cupang lo mati tau kelamaan di dalem plastik.”
“Biarin, gue belum pernah maen PS3, gue mau nyobain gimana rasanya.”
Pertemanan Ujang dan Dio menjadi semakin erat setelah itu. Takdir telah mempertemukan keduanya untuk menjadi partner, tak jarang keduanya dikira maho (baca: jeruk makan jeruk).
Darisinilah semua bermula. Ujang Stewart alias Ujang Hidayat telah menemukan seorang asisten yang setahun lebih muda darinya bernama Dio, nama panjangnya Dio Ruhiyat. Soal mengapa Ujang tidak menerima kasus pembunuhan? Itu karena Ujang tidak kuat melihat darah, kecuali darah semut.
Dua tahun yang lalu.
Seperti biasa keributan kecil terjadi di pasar ikan di Jalan Peta. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ujang dan penjual ikan cupang langganannya yang bernama Fandi atau nama gaulnya Mang Fay.
Ujang, Pria yang baru lulus SMA, berbadan kurus dan berambut lurus itu selalu ngotot turun harga kalau lagi beli ikan cupang. Sebaliknya, Mang Fay, yang botak dan bertubuh kekar tidak akan mudah memberikan harga diskon ke Ujang. Sebagai pemuda yang tumbuh di daerah perdesaan yang notabene banyak menghasilkan ikan cupang, Ujang merasa harga yang dipatok Mang Fay itu terlampau tinggi. Padahal sih harganya standar.
“Ya elah Fay, ini ikan cupang kalo di kampung saya paling cuman seribu. Gue kan langganan disini, kok enggak dapet potongan harga sih..” protes Ujang.
“Yee, ini harga standar disini atuh Jang...”
“Jangan sepuluh ribu deh Fay, gimana kalo gue beli dua ribu?” Ujang mulai mempraktekkan teori menawarnya yang memang sudah turun temurun. Iya, harga tawar yang kebangetan, memangkas lebih dari 50% dari harga jual!
“Jiah, dua ribu mah untuk ikan cupang yang kecil disana Jang… Kalo untuk yang akang pegang itu harganya sepuluh ribu. Ya turun seribu deh jadi sembilan ribu aja,” si tukang ikan tidak mau kalah. Sebagai penjual ikan cupang yang berdedikasi ia juga punya prinsip, yaitu pertahankan harga jual selama mungkin.
Ujang mulai memikirkan strategi lain. Saatnya melancarkan taktik kedua. Apa itu?
“Ah kalo gitu enggak jadi deh Fay, gue beli dari tempat lain aja…”
Cerdas. Ini mulai menggerogoti sisi psikologis dimana pergi setelah tawaran ditolak penjual adalah sebuah tindakan spekulasi yang harus dilakukan pembeli agar si penjual tersebut memilih antara “tidak dapat sama sekali” atau “yang penting dapat uang”. Ujang kemudian memberikan botol berisi ikan cupang itu kembali ke penjual dan pelan-pelan meninggalkannya sembari bersiul kecil.
“Tunggu Jang!” teriak Mang Fay.
Ujang menghentikan langkahnya sambil tersenyum senang dan menghampiri penjual ikan cupang itu lagi.
“Ada apa, Mang Fay?” tanya Ujang. Berusaha kalem padahal di dalam hatinya berteriak; Yeaah!
“Gimana kalau sama-sama enak, lima ribu aja?”
Sial. Masih terlalu mahal. Sedangkan anggaran dana untuk beli ikan cupang hari ini tuh cuman empat ribu lima ratus. Ucap Ujang dalam hati.
“Yah elah Fay, itu sih masih kemahalan… Gimana kalo empat ribu?”
“Emm….”
“Empat ribu lima ratus deh Fay, gimana?”
“Oke deal!”
Kesepakatan akhirnya terjalin juga. Ikan cupang serit berwarna hitam yang merupakan idaman Ujang itu berhasil di dapatnya setelah melalui perundingan lima menit dengan Mang Fay. Namun kebahagiaan itu terhenti sejenak setelah Ujang tiba-tiba bertabrakan dengan seorang anak SMA di tengah perjalanannya menunggu angkot. Cowok yang masih labil itu rambutnya cepak dan matanya sipit, bisa dikatakan berwajah oriental nanggung. Kejadian itu membuat plastik ikan cupang yang dipegang Ujang jatuh dan pecah. Sontak Ujang kaget bukan main setelah melihat ikan cupag barunya itu meronta-ronta di tanah.
“Pak minta plastik sama air, cepettt!!!” desak Ujang kepada penjual ikan terdekat.
Ikan cupang baru itu pun selamat dan bocah SMA yang menubruk Ujang lalu minta maaf.
“Hampir aja ikan cupang gue mati!”
“Iya, gue minta maaf banget, Bang…,” kata si bocah SMA.
“Bang? kalo dari logat lo, kayaknya lo anak Jakarta ya?”
“Iya Bang, gue pindahan Jakarta.”
“Oh gitu, sama, gue juga orang Jakarta tapi bokap gue orang Bandung. Gue udah setahunan gitu disini.”
“Enggak nanya, Bang.”
“Kampret. Ngomong-ngomong, ngapain lo lari-lari gitu tadi? Lo bolos ya?”
“Bukan Bang, gue tadi dikejer satpam, dikira maling jambu…”
“Beuh, aneh banget tuh satpam, perkara jambu aja sampe dikejer-kejer sampe ke pasar ikan. Nama lo siapa?”
“Nama gue Dio, Kalo abang siapa namanya?”
“Gue Ujang.”
“Oooo… Wah, tuh satpam kesini Bang, gue kabur dulu yak…”
“Eits, tunggu dulu,” Ujang mencengkram lengan kiri Dio. “Jangan kabur, biar gue yang ngomong sama tuh satpam.”
Seorang pria berkumis lebat dan berbadan buncit berdiri tepat di depan Ujang dan Dio. Kalau dilihat dari ekspresinya, satpam itu seperti tukang jagal ayam.
“Kamu ini, ayo ikut saya ngomong ke majikan kalo kamu yang nyolong jambunya!” seru sang satpam sambil menunjuk Dio. Sesuai janjinya Ujang menjadi penengah di dalam kasus ini. Ia dengan lagak sok kenal sok akrabnya langsung merapihkan seragam satpam tersebut. Merasa jijik, satpam itu langsung buru-buru menyingkirkan tangan Ujang yang sudah merambat ke kerah seragamnya. Iya, itu lebih baik sebelum gosip yang tidak-tidak menyebar.
“Enggak enak ribut disini. Mending gini deh Pak, kita ke TKP aja,” ucap Ujang.
“Oke, mari saya antar.”
“Tunggu dulu, kita jalan kaki?”
“Iya…”
“Sial.”
Ujang dan Dio lalu digiring oleh satpam yang belakangan diketahui bernama Rusli dan ia sudah bapak-bapak. Sepanjang perjalanan menuju tempat kejadian perkara, Pak Rusli banyak curhat tentang kehidupannya sebagai satpam, terutama tentang gajinya yang sudah satu bulan tidak turun-turun dari sang majikan yang namanya Pak Dadang.
Pohon Jambu di Kediaman Pak Dadang
Dua puluh menit kemudian.
“Nah, ini dia tempatnya, rumah majikan saya….”
Sebuah rumah yang memiliki halaman depan yang luas dengan beberapa tanaman hias kini terhampar di hadapan Ujang, Dio dan Pak Rusli. Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu untuk menghadap Pak Dadang yang kebetulan lagi duduk-duduk di teras rumah sambil memandangi burung Beo-nya yang sedang asik mondar-mandir di dalam kandang. Pak Dadang ini berpostur pendek dan kecil, tapi sorotan matanya sangat tajam, belum lagi kerutan di beberapa sisi wajahnya. Sangat berkarisma. Berbeda dengan Ujang yang struktur wajahnya mirip aspal rusak. Bahkan, saking tidak karuannya wajah Ujang itu, ia pernah dikira ilmuwan gagal yang sedang dalam proses akhir menuju gila.
“Ini ada apa ya?” Pak Dadang membuka pembicaraan.
“Eeee, gini Pak, ini dia bocah SMA yang tadi nyolong jambunya Pak Dadang,” jawab Pak Rusli sambil nunjuk ke arah Dio.
“Oh ini orangnya, kenapa kamu nyolong jambu saya?”
“Bukan, Pak, bukan saya…”
“Ah ngaku aja kamu, tadi kan kamu orang yang terakhir muter-muter di depan rumah ini,” Pak Rusli semakin memanaskan suasana. Itu adalah bentuk ketegasannya di depan Pak Dadang biar tidak dipecat. Carmuk! (baca: cari muka!)
“Tunggu dulu,” potong Ujang. “Pak Dadang, bisa minta minum dulu gak? Kalo ada sih sirup…,” Ujang mulai mengeluarkan sisi tak tau malunya.
“Enggak ada minum! Saya lagi kesal ini, jambu yang udah saya tunggu-tunggu sekarang hilang semua!” tegas Pak Dadang. Ujang tertawa lepas, “Haha, nyantai aja kali Pak, yang penting kan bukan kolor bapak yang hilang. Gini, kalau si Dio ini pelakunya, enggak mungkin dia berani kesini lagi, pasti dia lari lagi waktu perjalanan kesini tadi.”
“Oh, benar juga ya,” pikir Pak Dadang.
“Ah itu mah bisa-bisanya mereka aja Pak. Saya tau kalian berdua ini bersekongkol kan?” Pak Rusli kembali memanaskan suasana. Kompor!
“Hmm, tapi Pak Rusli benar juga…”
“Oke, gimana kalo kita sekarang ke lokasi pohon jambu itu aja?” kata Ujang lagi.
“Mau ngapain, Jang?”
“Udah, lo jangan banyak tanya Dio, sekarang kita kesana aja yuk….”
Ujang, Dio, Pak Rusli dan Pak Dadang kemudian berjalan menuju TKP yang sesungguhnya. Pohon jambu yang terletak tepat di sudut kiri halaman depan rumah. Tidak terlalu tinggi, bahkan sangat mudah untuk dipanjat anak SD sekalipun.
“Hmm… Jarak antara pohon jambu ini sama pager jauh juga ya, perkembangan yang bagus. Ah, liat ada jejak sandal anak kecil disini!” Ujang menunjuk tanah di dekat pohon jambu yang kondisinya basah.
“Terus kenapa?” Pak Dadang mendadak kepo.
“Ya itu berarti pelakunya bukan Dio, lagian dia kan pake sepatu. Iya kan?”
“Oh iya, benar juga kamu….,” Pak Dadang menempelkan jempol dan telunjuknya ke dagu.
“Ah, bohong itu Pak, alibi tuh…,” Pak Rusli kembali menjadi kompor.
“Nah, tadi lo muter-muter di depan rumah ini ngapain?” Ujang menatap Dio dengan serius.
“Gue tadi sebenernya bolos, enggak tau mau ngapain gue jadi mondar mandir dimari deh, hehe…”
“Wah, parah lo, bukannya tadi lo ngomong enggak bolos ke gue?”
“Iya, gue bohong Bang, gue bolos maen PS3 di deket sini, hehe…”
“Sudah, sudah, ini kok kalian malah curcol. Jadi yang maling jambu di rumah saya itu siapa?” Pak Dadang geram. Bukannya memecahkan masalah Ujang malah meributkan sesuatu yang tidak penting dengan Dio.
“Tuh, tanya aja satpam anda,” ucap Ujang sambil menebar senyum manisnya.
“Loh, kok tanya saya?” tanya Pak Rusli heran.
“Iya, soalnya ada keganjilan di sepatu kanan anda dan seragam anda. Sepanjang perjalanan kesini tadi, saya terus mengamati anda dari atas sampai bawah,” tutur Ujang lagi.
Pak Rusli semakin bingung dengan ucapan Ujang. Entah mengapa ucapan Ujang itu membuat Pak Rusli jadi sedikit gemetaran.
“Emang kenapa dengan sepatu dan seragam Pak Rusli itu?” lagi-lagi Pak Dadang kepo.
“Liat sepatu kanannya,” Ujang jongkok dan menunjuk sisi kanan dari sepatu sebelah kanan Pak Rusli. “Disini ada bekas tanah yang di lap dengan tergesa-gesa, dari kerapihannya kayaknya di lap pake daun atau semacamnya. Tanah di deket pohon jambu ini basah, jadi pasti nimbulin bekas yang khas yang walaupun kering pasti keliatan, kecuali sepatu itu dicuci”
“Terus seragamnya?” giliran Dio yang penasaran.
“Tadi gue sempet pegang-pegang seragam Pak Rusli dari awal dia datang ke kita kan, Dio? Nah, dibagian kanan perutnya, agak mau ke pinggang tuh agak basah-basah gitu dan berbekas.”
“Haha.. itu kan bisa aja keringat,” sanggah Pak Rusli.
“Iya, keringat yang bau jambu.”
Pak Rusli terdiam sejenak, sementara Pak Dadang melihat satpamnya itu dengan serius.
“Benar apa yang dikatakan dia, Pak Rusli?” tanya si majikan.
“Eeee.. Benar Pak,” jawab Pak Rusli gugup. “Tapi itu keponakan-keponakan saya, Pak. Mereka lagi pengen banget tuh jambu, jadinya saya persilahkan mereka nyolong dimari,” lanjutnya sambil memasang muka memelas. Sekarang Pak Rusli semakin mirip dengan tokoh game, Mario Bross.
“Kenapa kamu enggak minta izin saya?”
“Takut Pak, kan buah jambu itu udah Bapak tunggu-tungguin banget.”
“Ehem…,” potong Ujang. “Masalah udah selesai kan? sekarang saya dan Dio sudah boleh pulang kan?” sambungnya.
“Oh silahkan, terimakasih ya…,” Pak Dadang mempersilahkan Ujang dan Dio pergi.
Sementara Pak Rusli? Ia dihukum Pak Dadang push up seribu kali dan sit up lima ratus kali. Sebenarnya itu masih mending ketimbang tawaran pertama Pak Dadang, yaitu tidak memberikan gaji selama empat bulan. Sungguh malang nasib satpam tambun itu.
Dio Sang Asisten
Ujang dan Dio meninggalkan rumah Pak Dadang dengan rasa puas. Terutama Dio, terhindar dari tuduhan mencuri jambu itu adalah sebuah hal yang tidak bisa diungkapkan kata-kata. Tak bisa dibayangkan kalau ia tidak diselamatkan Ujang tadi, bisa-bisa Dio masuk ke acara kriminal di tv dengan kasus mencuri jambu. Sungguh sebuah tindakan kejahatan yang tidak berkelas.
“Makasih ya Bang tadi udah nolongin gue,” buka Dio. Sumpah, ini percakapan ftv banget.
“Iya, jangan panggil gue Bang, panggil nama aja.”
“Oke deh, ngomong-ngomong lo tadi kayak detektif banget dah, Jang! Keren!”
“Biasa aja, itu udah kerjaan gue selama seminggu ini,” Ujang menanggapi santai sambil menghidupkan sebatang rokok.
“Maksudnya, lo emang detektif gitu, Jang?”
“Yes, ini kartu nama gue,” Ujang memberikan selembar kertas HVS kecil berbentuk persegi panjang.
“Ini kartu nama lo? Kok kertas HVS? Ditulis tangan lagi, enggak elit banget…”
“Untuk ngirit biaya operasi…”
“Bisa aja ngelesnya. Tunggu dulu, Detektif Ujang Stewart, keturunan bule?”
“Bukan, itu nama beken aja, nama asli gue mah Ujang Hidayat.”
“Haha.. Sok kebaratan segala lo Jang!”
“Itu biar musuh gue enggak tau siapa nama gue sebenernya,” Ujang menghempaskan asap rokok ke udara.
“Emang lo punya musuh ya?”
“Enggak sih…”
“Dasar aneh. Terus, disini ditulis tidak menerima kasus pembunuhan….”
“Iya, gue cuman nerima kasus-kasus kehilangan gitu.”
“Detektif tali kasih gitu dong ya, Jang? Hahaha…”
“Kampret.”
“Ngomong-ngomong kalo lo tau si Pak Rusli itu adalah orang di balik pencurian jambu tadi, kok lo enggak langsung ngomong Jang?”
“Haha.. Gue juga harus nganalisis dulu kaleee…”
“Analisis gimana tuh Jang?”
“Gini, gue jabarin satu-satu. Pertama, gue agak heran kok tuh satpam bela-belain ngejer lo, padahal jarak rumah majikannya sama pasar ikan itu lumayan jauh. Itu yang buat gue tertarik untuk ngecek seragam tuh satpam, eh bener aja gue ternyata nemuin jejak air jambu gitu dikit. Tapi itu bisa aja karena faktor lain, gue masih positif thinking sama tuh satpam. Biar gimana pun praduga tak bersalah itu harus tetep ditegakkan, jangan tergesa-gesa ngambil kesimpulan…”
“Terus yang kedua?”
“Kedua, gue enggak tau kalo lo beneran pelakunya apa bukan, makanya gue ngajak ke TKP dulu. Biasanya, pelaku sebenernya tuh takut kalo harus balik lagi gitu. Gue juga sengaja enggak pegang lo dan ngebuka banyak celah selama perjalanan kita ke rumah Pak Dadang itu, tapi lo tetep enggak lari. Itu yang buat gue yakin kalo lo tuh bukan pelakunya…”
“Jadi lo yakin kalo pelakunya Pak Rusli itu karena lo yakin gue bukan pelakunya?”
“Iya salah satunya itu, terus tanah pohon jambu yang basah. Pas gue perhatiin, di sepatu lo enggak ada jejak tanah basah gitu. Jarak antara pager sama pohon jambu juga jauh, jadi enggak mungkin bisa keluar loncatin pager langsung tanpa nginjek tanahnya dulu, kecuali kalo lo sebenernya spiderman sih pasti bisa…”
“Emm, tapi kan jejak-jejak itu aja belum cukup Jang?”
“Iya, gue tau itu belum cukup sampe gue liat ada bekas sandal anak kecil. Kenapa air jambu itu bisa nempel di seragam Pak Rusli? Enggak mungkin kan Pak Rusli ceroboh ngelap tangannya ke seragamnya setelah megang jambu? Jadi, kemungkinannya tuh bocah si pencuri jambu alias para keponakannya Pak Rusli itu ngelap di seragam Pak Rusli setelah dia makan tuh jambu. Kemungkinan itu lebih masuk akal.”
“Hmm, bener juga, gue boleh gabung sama lo gak Jang? Gue tertarik nih sama misteri-misteri kayak gini. Gue sering banget dah tuh baca novel-novel detektif gitu, terakhir gue nonton film detektif di bioskop tuh, judulnya kalo enggak salah detektif tokek yang maen si Sule, bagus tuh…”
“Itu film komedi, bencong! Hmm, tapi boleh juga sih lo gabung jadi asisten gue…”
“Enggak apa-apa Jang, yang penting judulnya asisten detektif! Yah walaupun detektif tali kasih gitu…”
“Kampret. Tapi lo harus selesaiin sekolah SMA lo itu dulu ye, masa asisten detektif keren sekelas gue cuman anak SMA ingusan.”
“Sialan… Beres dah Jang, entar abis lulus SMA gue resmi jadi asisten lo!”
“Satu lagi…”
“Apaan lagi, Jang?”
“Kata lo disekitar sini ada rental PS3 kan?”
“Iya, emang kenapa?”
“Traktir gue maen PS3 dulu sekarang..”
“Lah, entar ikan cupang lo mati tau kelamaan di dalem plastik.”
“Biarin, gue belum pernah maen PS3, gue mau nyobain gimana rasanya.”
Pertemanan Ujang dan Dio menjadi semakin erat setelah itu. Takdir telah mempertemukan keduanya untuk menjadi partner, tak jarang keduanya dikira maho (baca: jeruk makan jeruk).
Darisinilah semua bermula. Ujang Stewart alias Ujang Hidayat telah menemukan seorang asisten yang setahun lebih muda darinya bernama Dio, nama panjangnya Dio Ruhiyat. Soal mengapa Ujang tidak menerima kasus pembunuhan? Itu karena Ujang tidak kuat melihat darah, kecuali darah semut.
Nah, kalo udah baca kasih saran dan kritik yak, inget ya kritik bukan kripik!





