Friday, 5 June 2015

Tips Mencari Duet Menulis

Terkadang, ada rasa jenuh kalau kita tuh nulis sendiri. Nah, maka dari itu, salah satu cara yang biasanya bakal di ambil adalah berduet sama orang lain. Gue sama teman gue, Riyan Hasanin, sudah dua kali duet, pertama di buku yang sifatnya indie dan yang kedua di buku Cinta, Luka, Bersemi Kembali yang mungkin terbitnya 2-3 bulanan lagi (tergantung antrian cetak). Tentunya ada kendala besar ketika kita nulis berdua, yaitu ego. Yah, biasalah, kita berdua sering nulis sendiri-sendiri, jadi ketika berduet selalu saja ada pemikiran-pemikiran sendiri. Tapi, di sudut tertentu, hal itu bisa menambah kaya ide di dalam tulisan. Terus, gimana sih cara kita mencari duet menulis untuk sebuah karya fiksi?

1. Chemistry
Yup, gue sama Riyan sudah kenalan lama, dari TK sampai SMA, jadi kita sudah punya chemistry yang cukup baik walaupun kita sekarang tinggal di kota yang berbeda. Chemistry bukan berarti harus kenalan lama kayak gue sama Riyan, tapi bisa nyatu dengan cara berpikir sama sifat kita. Bukan nyanyi doang, nulis juga butuh soul. Soalnya, chemistry ini bisa meredakan ego yang seringkali muncul.

2. Passion
Gairah menulis yang sama. Passion ini bisa kita rasakan sendiri kok dengan melihat bagaimana keseriusan partner menulis kita dalam menyelesaikan tulisannya. Bisa di tes sih dengan menjadwalkan deadline. Kalau partner nulis kita sudah terlalu lama menyelesaikan tulisan dari deadline yang sudah di tentukan, sudah pasti passion nulis kita sama sang partner nggak sama. Bukan berarti sang partner lebih jelek dari kita, enggak, tapi ini tentang keselarasan passion aja. Soalnya, kalau passion kita rasa sudah sama, pasti kedepannya bakal mudah dan cepat selesai.

3. Adaptasi
Adaptasi yang dimaksudkan di sini adalah adaptasi gaya tulisan. Misalnya membuat sebuah novel, tentu kita sudah menetapkan gaya bahasa agar sama, walaupun di tulis berdua. Chemistry saja nggak menjamin kalau si partner bisa menyesuaikan gaya tulisannya. Sebaliknya, kita juga harus beradaptasi. Terkadang adaptasi gaya bahasa ini butuh waktu, apalagi kalau dua penulis itu punya genre tulisan yang beda.

4. Dedikasi Tinggi
Kalau tiga poin di atas di rasa sudah cukup terpenuhi, pilihlah yang punya dedikasi tinggi menyelesaikan itu naskah. Sedikit bersentuhan dengan passion sih, tapi terkadang passion tinggi yang hanya terfokus untuk menyelesaikan "bagiannya" saja itu nggak cukup, biasanya tulisan yang di hasilkan malah nggak maksimal. Nah, kalau partner kita sudah punya dedikasi tinggi juga, biasanya dia bakal mengeluarkan effort yang lebih lagi. Bukan tentang bagaimana bagiannya selesai saja, tapi juga memikirkan bagaimana kualitas tulisannya.

5. Plus Minus Tulisan
Sebisa mungkin, usahakan sisi plus tulisan kita, menutupi sisi minus dari partner. Sebaliknya, sisi plus dari partner, menutupi sisi minus dari kita. Pastinya, kita sama partner ada kelebihan dan kekurangan masing-masing dari segi teknis dalam tulisan. Yah, bisa di bilang ini rada masuk bagian chemistry sih, kita harus tahu apa kelebihan dan kekurangan dalam hal tulisan masing-masing.

Demikianlah tips mencari duet atau partner menulis dari gue. Kelebihan menulis berdua ini adalah ide lebih variatif, bisa saja kita mikir A, tapi partner punya pemikiran B yang lebih oke. Tulisan juga bisa lebih cepat kalau kelima poin di atas terpenuhi. Hayo, mau coba nggak nulis berdua? hihihi...

Monday, 1 June 2015

Fiksi - Misteri Hilangnya Kucing Persia Salsa (Final Chapter 1)

Baca dulu yang sebelumnya DISINI

Pos satpam. Sebuah tempat berbentuk persegi berukuran 6x6 meter. Berpintu kayu berwarna putih dengan sebuah kursi panjang biru di depannya. Di sana terdapat tiga orang berseragam security yang sedang melakukan aktifitas yang berbeda-beda. Ada yang sedang menyambut mobil masuk ke dalam perumahan, ada yang asyik menyeruput kopi dan satu lagi sedang main handphone. Niko, Jamal dan Rifky yang baru sampai di sana pun langsung menghampiri satpam yang sedang berdiri menyambut mobil atau motor yang keluar masuk. Satpam itu masih tergolong muda, tegap dan memiliki alis yang tebal.

“Malam…,” buka Niko sembari mengamati tag nama satpam yang berada di dadanya, “Pak Irwan?”

“Iya, ada yang bisa saya bantu?” Pak Irwan sedikit menunduk dan menadahkan tangan kanannya ke arah gerbang, “Kalau mau pulang silahkan Mas, langsung saja.”
 
“Kita memang mau pulang Pak, tapi ada yang mau kita tanyain dulu nih sebelum pulang.”

“Oh begitu, mau tanya apa ya?”
 
Jamal maju satu langkah. Ia merasa kali ini adalah waktu yang tepat untuk beraksi. “Begini Pak, apakah kemarin malam ada orang berambut cepak dan punya tahi lalat di pipi kirinya masuk ke dalam perumahan ini?”
 
“Oh, setahu saya gak ada ya, tapi tunggu dulu…,” Pak Irwan mendatangi kedua teman satpamnya yang lagi asyik nyantai.  Mereka terlihat sedang ngobrol seru. Tak berapa lama dari itu, Pak Irwan kembali lagi dengan membawa sebuah buku tamu berwarna merah tua dan menunjukkan salah satu halamannya ke Niko, “Kata Pak Wira ada nih, namanya Beni. Alamatnya Jalan Permana Indah nomor. 33A.”

“Sip..,” Jamal mencatat informasi tersebut.

Pak Irwan memasang ekspresi sedikit penasaran, “Emangnya ada apa ya kalian nanya itu?”

“Oh, begini Pak, kucing salah satu penghuni di perumahan ini hilang…,”
 
“Kucing persianya Salsa?” potong Pak Irwan.
 
“Nah, iya itu!” jawab Niko, Rifky dan Jamal serentak.
 
“Oooo, iya-iya, kan saya yang bantu Salsa nyariin sekitaran perumahan. Tapi gak ketemu juga. Kayaknya di bawa makhluk halus deh Mas.”
 
“…..”
 
Pak Irwan langsung menetralkan situasi, “Ah, becanda, di sini mana ada hantu penculik kucing.”
 
“Hah.. ha.. hah… ha…,” tawa Niko terbata-bata.
 
“Lalu, apakah anda melihat Beni keluar perumahan sambil membawa kucing?” tanya Jamal.
 
Pak Irwan menepuk jidat, “Oh iya! Aduh, bodoh sekali saya. Saya lihat, itu orang bawa-bawa kain gitu, warnanya hitam!”
 
“Sip! Ya sudah, terimakasih atas informasinya Pak,” Jamal menjabat tangan Pak Irwan, “Kita pulang dulu,” lanjutnya.

Satu lagi informasi penting didapatkan. Niko, Rifky dan Jamal memutuskan untuk mendatangi rumah orang yang bernama Beni itu besok. Dalam perjalanan kembali ke kosan menggunakan angkot, mereka terus berdebat soal kasus yang sedang mereka kerjakan. Sangat seru sehingga menjadi pusat perhatian penumpang angkot lainnya.

Thursday, 28 May 2015

Pra Cetak Buku C.L.B.K (Cinta, Luka, Bersemi Kembali)

Gue mau ngabarin lagi nih tentang progress buku Gue sama Riyan Hasanin yang C.L.B.K. Tadi pagi, gue di kirim email lagi sama penerbitnya kalau sudah selesai proses akhir untuk editing. Yah, bisa di bilang pracetak, sudah proses akhir. Nah, di sini, gue mau ngasih lihat penampakannya sedikiiiitt, hitung-hitung promo gitu, muahahaha... Nyok lihat di bawah ini:

Sudah terdaftar di Perpustakaan Nasional.

Daftar isi, gambar di atas baru judul beberapa bab aja. :)

Penampakan Salah satu Bab.

Gimana? Makin penasaran nggak sama bukunya? Beli, beli, belii!! hihihi... Progressnya bakal terus Gue update lagi. Kayaknya sih, selanjutnya Gue bakal posting kalau sudah terbit. Coming Soon yaaa!!!

Thursday, 21 May 2015

Fiksi - Misteri Hilangnya Kucing Persia Salsa (Chapter 1 Bag.1)

Chapter 1
Jonathan dan Pria Berambut Cepak

Niko terus mengamati rombongan anak sekolah yang lewat. Tatapannya sangat tajam seperti ingin menerkam. Semua siswi yang lewat pun merasa ge’er. Maklum, Niko punya tampang yang cukup menggiurkan untuk minimal dijadikan gebetan. Bayangkan, hidungnya mancung, kulitnya putih, matanya rada sipit dan tubuhnya proporsional. Rambutnya yang spikejuga semakin memperkuat daya pikat tersebut. Mirip aktor Korea. Di sebelah kanan Niko, ada Rifky. Seorang cowok dengan style hawai, memakai kaos hitam bergambar ilustrasi pemandangan pantai dan sebuah celana pendek santai yang memiliki kolaborasi warna hijau-hitam. Berbeda dengan Niko yang rupawan, Rifky jauh dari kata menawan. Matanya belo, perutnya mancung dan hidungnya pesek. Rifky sudah berusaha untuk membuat penampilannya lebih oke dengan mengarahkan poni rambut ke kiri, tapi itu sama sekali tak menolong. Sementara itu, di sebelah kiri Niko ada cowok berkepala plontos, berhidung mancung dan memiliki kumis dan jambang tipis. Namanya Jamal. Berbeda dari Niko dan Rifky yang lagi serius melihat sekitar, Jamal justru asyik ngobrol sama tukang siomay yang ada di sebelah kirinya.

Dua jam sebelumnya…

Seorang cewek yang kulitnya kuning langsat, memiliki rambut lurus panjang, tinggi badannya semampai, tapi hidungnya rada pesek mendatangi Niko, Rifky dan Jamal yang lagi makan mie bakso pangsit di kampus. Bisa di bilang, ini kali pertama tiga sekawan itu di datangi langsung oleh cewek yang aduhai.

Jamal menelan ludah setelah melihat cewek itu dan bilang, “Cantik sekali dia!”

“Bidadari turun di kampus…,” kata Niko sambil menggelengkan kepala.

“Mahal nih cewek, guriiih…,” ungkap Rifky.

Gara-gara ucapannya, dahi Rifky langsung di toyor oleh cewek tersebut. Sial, muncul penyesalan yang teramat dalam di dalam hati Niko dan Jamal. Ya, setidaknya ucapan ngawur Rifky tadi mengantarkan jari-jemari lembut si cewek menyentuh kulit non-eksotis Rifky. Rifky yang di toyor sangat bangga akan hal itu.

“Kalian serius bisa nyari hewan yang hilang?” tanya si cewek, “Kenalin, nama gue Salsa,” lanjutnya.

Jamal langsung meraih tangan Salsa, “Kalo saya Jamal Saefudin, anda bisa memanggil saya Jamal. Yes, cukup Jamal saja.”

Niko langsung memisahkan tangan Jamal dan Salsa yang lagi berjabat erat, “Kenalin, gue Niko Syahputra Wijatmoko, panggil aja Niko.”

Rifky tidak mau kalah, ia memisahkan tangan Niko dan Salsa. Apesnya, Salsa langsung mengelak dari ajakan berjabat tangan dari Rifky, “Ya sudah kalo gak mau salaman, nama gua Rifky Hadi Putra, panggil gua Rifky aja yak.”

Salsa mengangguk. Ia kemudian membuka dan merogoh tas baguette merahnya, lalu mengambil sebuah foto. “Nih, namanya Kiki, kucing persia gue. Kemarin dia hilang. Gue, keluarga gue, sama satpam perumahan sudah cari kemana-mana tapi gak ketemu juga,” ucapnya kesal.

Niko, Rifky dan Jamal memandangi foto tersebut. Seekor kucing persia sesuai dengan apa yang diungkapkan Salsa, berumur sekitar 3 bulanan, berwarna dominan putih dengan variasi warna hitam di area kaki dan kepalanya. Niko yang tidak tega melihat Salsa berdiri lalu menyarankan Salsa untuk duduk di atas kursi kayu panjang berwarna coklat di depannya dan menceritakan kronologis kejadian sebelum Kiki menghilang.

Salsa memonyongkan bibir, “Jadi gini, hari minggu, kemarin malem, gue lagi jalan sama cowok gue. Pas balik, eh kucing gue udah gak ada! Kesel deh!”

Niko mendadak serius, tangan kanannya mengusap dagu, “Hmm, ada dua kemungkinan. Yang pertama, kucing itu di culik. Terus yang kedua, kucing itu lagi kawin sama kucing lain di genteng. Nah, selesai kawin, dia mati tragis di lindas truk sampah, jasadnya di mutilasi dan dijadiin daging bakso.”

Salsa langsung menanggapinya dengan melayangkan tas baguette nya ke wajah Niko.

Rifky melipir ke arah Salsa di sebelah kiri, “Di rumah ada siapa aja pas lu lagi jalan sama cowok lu itu?”

Pandangan Salsa ke atas, “Emm, ada Nyokap, Bokap sama adek gue, Fini.”

Jamal mengeluarkan secarik kertas dan pena dari saku bajunya, “Apakah anda merasa ada sesuatu yang aneh di hari sebelumnya? Atau tepatnya kemarin lusa?”

“Ada!” teriak Salsa.

Sontak Niko, Rifky dan Jamal pun jadi semakin antusias. Ketiganya fokus memandangi wajah Salsa yang sedang membara.

Friday, 8 May 2015

Book Trailer C.L.B.K (Versi Iseng)

Kala itu, di mana hujan turun dengan lantangnya. Di saat kepingan-kepingan kenangan masih saja ngejongkrok di hati. Alach, langsung aja deh. Waktu itu, gue lupa kapan tepatnya, seorang teman di bbm gue ngabarin kalau dia bikin book trailernya di sebuah website, powtoon.com, nama orang itu Hadi yang ngebuat buku Long Distance Relation Sick. Nah, daripada nggak ada kerjaan, gue iseng juga deh tuh ngebuat book trailer 'calon' buku gue sama Riyan Hasanin, C.L.B.K (Cinta, Luka, Bersemi Kembali). Rada gemblung sih book trailernya, tapi lihat aja deh di bawah ini:


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑