Tuesday, 27 October 2015

Jadwal Tayang FTV Bidadari Turun Di Kandang Ayam

Ada beberapa FTV yang gue tulis ceritanya, gue lewatkan di blog. Kali ini, berhubung gue lagi alay, jadi gue tulis lagi. FTV apalagi Feb? Bukan, bukan cinta di balik sempak ya, FTV yang gue tulis ceritanya tuh berjudul BIDADARI TURUN DI KANDANG AYAM. Sebenarnya judul asli bukan itu, tapi ayam-ayam cinta. Berhubung judulnya nggak ada kece-kecenya sama sekali, jadi di ubah sama PH. Seperti sebelum-sebelumnya, beberapa part plot kemungkinan besar di ubah juga sama penulis skenarionya, biar makin oke. Nah, yang main juga entar bisa di bilang ratu FTV lah Dinda Kirana yang bakal beradu akting dengan Feby Andriawan Riza Irsyadillah. Penasaran sama cerita FTV nya? Nonton ya besok, tanggal 28-Oktober-2015, pukul 10.00 di SCTV. Pokoknya harus nonton, mau lo lagi di pangkalan ojek, di warteg, di wc, di kuburan, pokoknya nontooonnn!!!!!!

Biar makin penasaran, di bawah ini posternya: 



Monday, 19 October 2015

Mau Jadi Penulis Ide Cerita di TV? Harus Punya Ini Dulu Ya....

Sekarang ini, sebenarnya banyak banget Production House (PH) yang bisa membuat para penulis, baik yang baru maupun senior untuk unjuk gigi. Motivasi ya pastinya pengin berkarya dan mendapatkan uang tambahan. Iya, nggak munafik juga dong gue nulis untuk nebelin dompet sedikit, hihihi.. Lagian, PH juga sebenarnya membutuhkan orang-orang kreatif seperti penulis cerita. Jadi alurnya gini, setelah cerita di acc sebuah station tv, baru deh proses produksi dilakukan. Artinya, kalau nggak ada cerita yang di acc, nggak ada yang di produksi sama PH. Bisa di bilang sih walaupun sekedar nulis cerita untuk ftv misalnya, tapi peran itu termasuk cukup penting bahkan gue bilang sangat teramat penting walaupun kita cuman nulis 1-3 halaman (ada PH yang sampai 9 halaman). Penulis skenario pun baru gerak kalau sudah ada cerita yang di acc lho. Yup, krusial banget kan posisi para penulis ide cerita? Sayangnya, posisi krusial itu berbanding lurus sama tingkat kesetressan. Nah, kalau yang sudah terbiasa, nulis cerita itu bisa dinikmati. tapi kalau yang masih baru bisa menimbulkan stress dan keputusasaan. So, untuk itu para penulis ide cerita tuh wajib punya hal-hal ini:

1. Mental
Share aja nih, cerita yang gue buat untuk ftv tuh paling yang di acc cuman sekitar 30%-40% nya aja lho. Terkadang, yang sudah kita prediksi acc malah ditolak, begitu juga sebaliknya yang kita anggap biasa aja malah acc. Terkadang, dari 6 cerita yang kita lempar, di tolak semua! Kesel nggak tuh? Inilah yang buat para penulis cerita pemula banyak yang putus asa. Banyak yang nanya ke gue, gimana sih caranya biar di acc? Gue cuman bisa ngasih teori yang gue tahu aja, tapi keputusan tetap aja di tangan reviewer pihak tv. Maka dari itu, persiapkan mental kalau ditolak. Lihat catatannya kenapa ditolak dan buat lagi! Cobalah untuk menikmati proses menulisnya tanpa memikirkan apa yang kita tulis bakal acc atau nggak. Iya, yang penting tulis aja, nggak bakal rugi kok.

2. Dedikasi
Kalau mau jadi penulis ide cerita, pastinya harus meluangkan waktu untuk nulis, ya eyalaaah... Sialnya, banyak gangguan dari dunia luar yang bikin kita malas untuk nulis. Beberapa orang ada yang pengin jadi penulis, tapi waktu yang dia pakai untuk menulis sedikit, buat apaaa! Iya masih mending kalau yang kita tulis itu sifatnya pengetahuan yang kita punya, lalu dituangkan ke dalam tulisan. Nah, kalau penulis ide cerita untuk ftv kan sifatnya lebih ke imajinasi, kita juga harus memikirkan dramaturgi sebuah cerita. Pastinya, bakal menyita banyak waktu. Kalau sudah memutuskan untuk menyelesaikan satu cerita, sebaiknya kita fokus! Boleh sih istirahat, tapi selesaikanlah hari itu juga atau paling nggak jangan sampai dibiarkan begitu aja selama 24 jam. Pengalaman gue sih bakal kehilangan iramanya kalau cerita itu kita endapkan lebih dari 24 jam, apalagi pas konflik lagi tinggi-tingginya gue nggak merekomendasikan istirahat nulis pas konflik lagi nanjak.
 
3. Gairah
Gairah di sini bukan ikeh ikeh kemocih ya, tapi gairah akan kemauan kita untuk di acc! Dulu, waktu ngirim pertama kali tuh gue ngirim dua atau tiga, gue lupa, dan itu ditolak semua. Tapi, gairah gue yang pengin banget "pecah telor" buat gue terus nulis sampai akhirnya di acc satu. Setelah itu, semua terasa sedikit lebih mudah. Punya mental bagus nggak goyah pas ditolak tapi nggak punya gairah untuk berhasil pun hasilnya sama aja. Gairah di sini artinya kita juga harus punya kemauan untuk belajar yang tinggi ya.
 
4. Mendengarkan Kritikan dan Saran
Kunci keberhasilan di bidang apa pun menurut gue tuh mau mendengarkan kritik dan saran. Apalagi untuk nulis ide cerita ftv, kita harus mau mendengarkan saran yang lebih berpengalaman. Gue beruntung dalam hal itu punya mentor kayak Pak Puguh PS Admaja sama Iyas Maldas. Kalau nggak mau mendengarkan saran dari yang pengalaman, ya siap-siap aja terus begitu, nggak mengalami peningkatan. Jangan terus idealis sama ide yang kita punya, karena untuk kepentingan tv tuh kita yang harus ikut apa mau mereka. Kalau nggak mau diarahkan ya buat film dengan budget sendiri.

5. Adaptasi Gaya Bahasa
Jadi penulis cerita ftv apa pun genrenya, nggak wajib deh menguasai banyak kata layaknya sastra, yang penting kita bisa nulisnya dengan kalimat yang mengalir. Gue punya kenalan orang yang biasanya nulis cerita untuk Trans yang nulis ftv tema misteri. Pas gue baca, gaya bahasanya bisa di bilang formal, beda sama gue yang segmennya remaja ya gaya bahasanya remaja sehari-hari juga nggak apa-apa yang penting transisi antara kalimat satu dengan lainnya tuh rapih. Iya, setiap station tv, mungkin punya kriteria gaya bahasa tertentu dalam penulisan cerita. Kita harus bisa menyesuaikan itu. Kalau nggak bisa fleksibel, ya kita pilih aja station tv mana yang kiranya sesuai sama gaya penulisan kita, mau nggak mau ya harus gitu kalau nggak bisa fleksibel.

Nah, setidaknya poin-poin di atas cukuplah membentuk kita menjadi penulis cerita yang baik untuk kebutuhan televisi. Tapi, sikap tiap-tiap penulis cerita berbeda. Misal, bisa jadi ada yang punya sedikit waktu tapi dia bisa menyelesaikan ide ceritanya. Kebanyakan sih yang kayak gitu yang sudah punya pengalaman aja, newbie masih jarang yang kayak gitu. Semoga ini jadi motivasi buat teman-teman yang pengin coba nulis cerita untuk kebutuhan station televisi.

Sunday, 20 September 2015

Acara Televisi Katanya Kurang Mendidik, Salah Siapa?

Gue tergugah nulis di postingan ini karena banyak orang-orang di facebook yang mengeluhkan acara televisi dan menjudge secara satu sisi kalau acara televisi nggak mendidik dan itu salahnya stasiun-stasiun televisi. Gue setuju, gue lebih senang acara-acara televisi di periode 90-2000an awal dimana slot acara yang pantas untuk di tonton anak-anak lebih banyak. Sekarang, kata orang sih stasiun televisi lebih mementingkan share dan rating. Lalu, apakah kita sadar siapa yang menciptakan share dan rating tersebut? Iya, masyarakat. Banyaknya drama Turki sama sinetron-sinetron bertemakan manusia jadi-jadian yang sekarang muncul pun berkat andil mayoritas masyarakat yang nonton, akibatnya semua pada latah. Memang benar awalnya ada penggiringan di sana untuk menyukai genre tertentu, tapi kan kalau yang mau di giring banyak yang nolak alias nggak di tonton juga nggak mungkin bisa latah gitu. 

Sebenarnya, itu bukan jadi hal yang mengherankan karena dulu juga televisi kita dibanjiri dengan banyaknya telenovela. Kartun-kartun yang bertebaran juga bisa jadi karena imbas share dan rating lantaran peminat anak-anak nya banyak. Gue dan teman-teman penulis yang berkecimpung di dalam sana pun mau nggak mau mengikuti selera masyarakat yang sekarang cenderung banyak penonton remaja. Kenapa penulis yang biasa nulis cerita sama skenario nggak pada mogok kerja aja kalau gitu? Yaelah, penulis kan manusia juga, butuh uang. Iya kalau ada sumber penghasilan dari bidang lain, kalau nggak? Pasti aja deh ada penulis yang ngambil job kalau ada kesempatan, yang penting kan uangnya di dapat bukan dari hasil merugikan orang lain kayak koruptor. Terus, kenapa stasiun televisi nggak membuat sinetron seperti dulu sinetron Keluarga Cemara aja? Kan bagus tuh, mendidik. Sudah pernah kok di salah satu stasiun televisi, tapi ratingnya jelek! Jadi pihak stasiun cenderung men-cut sinetron yang seperti itu. Yang jadi pertanyaan gue, kenapa di saat sinetron yang katanya mendidik itu muncul, nggak ada remaja yang nonton? Kemana para orangtua yang seharusnya mengajak anaknya nonton bareng mereka itu? Dulu, waktu jamannya sinetron Si Doel Anak Sekolahan sama Keluarga Cemara, gue sama keluarga gue nonton bareng terus. Kadang nonton sinetron Saras 008 sama Panji Manusia milenium juga. Sekarang? Apakah para orangtua terlalu sibuk cari uang sehingga melupakan kebersamaan dengan anaknya?

Menurut gue, sekarang tayangan juga cukup bervariasi kok. Pengetahuan untuk anak kan juga ada tuh kayak si bolang atau laptop si unyil. Kartun Indonesia di Indosiar juga gue lihat pada bermunculan. FTV yang awalnya cuman kita kenal romance komedi aja, sekarang juga ada genre religi nya sama humanis. So, sebenarnya banyak kok alternatif tontonan, cuman gue menyadari mungkin jam nya aja yang terkadang kurang tepat. Nah, berhubung gue nulis untuk ftv yang ada di sctv, bukannya gue membela sctv sih, tapi jam tayang ftv yang ada di sctv menurut gue sudah benar. FTV sctv tuh temanya romance komedi dan di putar pukul 10.00, 14.30 sama 23.00. Kalau kata gue sih itu sudah tepat jam-jamnya anak sekolah biar mengurangi nonton ftv dengan genre tersebut. Yah, paling bisa nonton yang setengah tiga siang aja, itu pun kalau mereka nggak tidur siang atau les. Untuk ftv yang jam sebelas malam, biar nggak di tonton sama anak sekolahan ya sekali lagi tugas orangtua dong yang memantau biar nggak tidur kemalaman. Lebih fokus ke genre romance, kenapa sekarang remaja pada suka galau dan sukanya nonton romance komedi? Karena itulah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Suka sama cowok, cowoknya di rebut sahabatnya sendiri, cinta bertepuk sebelah tangan dan lainnya tuh semua lekat dalam kehidupan remaja. Di sekolah, pergaulan sampai ke pelopor film-film drama Korea, itulah cikal bakal kegalauan!

Intinya, bersikaplah bijaksana dalam menyikapi tayangan televisi. Janganlah menganggap semua tanggungjawab stasiun televisi, para orangtua juga harus membimbing anak-anaknya untuk memilih tayangan yang sesuai. Kalau pun kurang sesuai, orangtua bisa menjelaskan ke anak-anaknya mana adegan yang harus di contoh dan mana yang nggak. Yaaa, sama aja lah kayak masalah-masalah yang ada di Indonesia, apakah semuanya mesti pemerintah, apa-apa salah pemerintah? Contoh kecil aja sampah yang ada dimana-mana sehingga menyebabkan banjir, terus apa itu sepenuhnya salah pemerintah? Dimana-mana, kalau mau maju, semua elemen harus aktif. Yuk, para orangtua, luangkanlah waktu untuk nonton televisi bareng anak-anak nya.

Saturday, 22 August 2015

Tips Sinopsis FTV Romkom: Goda Reviewer Dengan Paragraf Pertama (Sinopsis Burger Lapis Cinta)

Oke, postingan ini spesial buat teman-teman yang pengin banget nulis sinopsis untuk ftv. Disini, gue akan mencoba membedah paragraf pertama sinopsis gue sendiri yang sudah tayang berjudul burger lapis cinta. Kenapa paragraf pertama? Soalnya, itu tuh paragraf penting dalam sebuah sinopsis ftv. Jangan sampai, sinopsis kita sudah gugur sejak paragraf pertama. Bukannya gue jago ya, gue cuman share pengalaman dari pengamatan gue tentang sinopsis yang sudah di acc aja. Sekali lagi, ini bukan berarti gue jago, sinopsis gue juga ada yang ditolak-ditolaknya kok. Oh iya, sekedar info tambahan aja, sinopsis Burger Lapis Cinta ini kalau nggak salah semua nama tokoh di rubah dan ada beberapa plot di improve tanpa mengubah benang merah ceritanya, tapi itu nggak masalah karena segala improve adalah hak penulis skenario dan PH yang bersangkutan. Yang penting, pada dasarnya sinopsis atau cerita kita sudah memenuhi keinginan station tv sehingga di acc. Sip, kita mulai sajo yo.

Paragraf 1:
Ramli kaget bukan main melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Masalahnya, hari ini tuh hari pertama Ramli masuk kerja! Nggak pake mandi, cuman sikat gigi, Ramli langsung berangkat dengan motor bebeknya. Sialnya, di tengah jalan Ramli nabrak gerobak burger Pak Hasan. Kasihan sih lihat tuh tukang burger nyejugruk di bawah pohon, tapi Ramli nggak mau telat dan langsung cabut. Baliknya, Pak Hasan curhat sama istri dan anaknya, Bu Alya dan Mona. Gerobak burgernya jadi hancur gitu. Padahal tuh gerobak baru bakal di pakai buat entar siang jualan. Untungnya ada Riyan nih yang demen sama Mona. Kebetulan Riyan punya gerobak bekas gitu tapi masih layak pakai. Riyan pinjemin dulu deh tuh gerobak sampai gerobaknya Pak Hasan bener lagi. Baik banget ya Riyan, tapi sayang Mona cuman nganggep Dia sahabat doang. Gimana nasib Ramli? Dia telat satu jam dan langsung di pecat! Gila, disiplin banget tuh kantor, belum juga mulai kerja sudah di pecat aja. Di tengah jalan menuju pulang dengan tampangnya yang lesu, Ramli nggak sengaja melihat Mona yang cantiknya kebangetan lagi membuat burger. Naluri lelaki Ramli langsung muncul nih, pura-pura beli burger padahal pengin kenalan. Ah, duit di dompet pas banget lagi untuk beli satu burger, ya sudah Ramli nekat deh abisin tuh duit. Rencana Ramli berhasil, dia bisa kenalan sama Mona. Sambil makan burger di tempat, Ramli ngobrol sama Mona. Mona cerita sih dia jualan gantiin Bokapnya yang tadi pagi kena musibah di tabrak motor. Ramli sok-sokan deh tuh nyumpahin si penabrak, padahal kan itu dia sendiri. Ramli dan Mona pun bertukar nomor hape, setelah itu Ramli pulang. Di rumah, Ramli mulai mikir nih, jangan-jangan yang di tabraknya tadi pagi tuh Bokapnya Mona?? Tapi, ah, bisa aja kebetulan sama kronologis kejadiannya kan, yang penting dapet gebetan!

Asal mula: Di paragraf pertama itu sebenarnya adalah sebuah situasi yang ftv banget yaitu "tabrakan". Tapi, gue mikir, tabrakan yang gimana ya kira-kira yang nggak langsung ke tokoh yang nantinya di ending bakalan bersatu? Biasanya kan kalau tabrakan tuh antar tokoh yang nantinya bersatu. Begitu kita nonton, terus kita lihat adegan tabrakan, pasti kita mikir, "Ah, pasti dua ini nih yang nantinya jadian, basi!" Nah, makanya di sinopsis burger lapis cinta, gue belokin adegan tabrakan itu.

Poin-poin yang ada di paragraf pertama:
- Ramli baru mulai kerja, di tengah jalan nabrak Pak Hasan. Ramli di pecat karena telat sejam.
- Pak Hasan nggak jadi jualan burger karena ditabrak Ramli. Pak Hasan ini, punya anak namanya Mona.
- Mona yang menggantikan Pak Hasan jualan burger.
- Riyan suka sama Mona.

Konflik paragraf pertama: Ramli nabrak Pak Hasan yang notabene Bokapnya Mona. Mona ini, adalah cewek yang di ending entar bakal jadian sama Ramli. Di sini, Mona belum tau kalau Ramli si cowok yang baru dikenalnya lah yang ternyata nabrak Bokapnya. Konflik semakin dipertebal dengan adanya Riyan, si cowok yang juga naksir sama Mona. Dari paragraf awal aja, kita abaikan dulu endingnya seperti apa, ada beberapa pertanyaan: Siapa yang nanti jadian sama Mona? Ramli yang nabrak Bokapnya atau Riyan yang baik banget sama Mona? Kalau ternyata akhirnya sama Ramli gimana dong, kan yang nabrak Bokapnya Mona tuh Ramli?

Yup, sekali lagi, paragraf pertama adalah kunci awal kesuksesan sebuah sinopsis. Jangan disepelekan! Buat reviewer ketagihan untuk baca paragraf selanjutnya, jangan buat reviewernya ngantuk pas baca paragraf pertama kita. Okelah paragraf pertama harus buat latar belakang juga, tapi jangan terlena sehingga kita lupa meletakkan konflik. Kita harus berfikir tentang konflik A pemicu konflik B, konflik B pemicu konflik C dan seterusnya. Memang nggak menjamin di acc, tapi kalau paragraf satu sudah kuat, yakinlah itu bakalan mempermudah diri kita sendiri. Selain itu, sekali lagi, bisa bikin sinopsis kita nggak gugur sejak paragraf pertama. Semoga membantu.

Wednesday, 19 August 2015

Review Film Magic Hour

 
Kemarin, gue sama cemewew gue, nonton film Magic Hour produksi Screenplay. Gue penasaran sih isi filmnya sekeren trailernya nggak ya? Gue nonton Magic Hour di Miko Mall, Bandung. Murah cuy, hari biasa cuman 18 ribu! Nah, walaupun gue jadi penulis cerita ftv baru untuk Screenplay Production, bukan berarti review gue ini atas dasar karena gue nulis cerita ftv untuk Screenplay makanya gue bagus-bagusin ya, tapi karena memang penilaian gue pribadi. Kalau nggak salah, magic hour ini di angkat dari novel. Jujur, gue belum baca novelnya sih, jadi yang gue nilai cuman sebatas filmnya dan nggak ada perbandingan sama novelnya.

Langsung masuk ke cerita. Di awal, gue merasa "wah, ftv nih kayaknya ceritanya", soalnya alurnya cukup dejavu sama ftv-ftv dimana Nyokapnya Gweeny yang diperankan oleh Meriam Bellina, menjodohkan Gweeny sama Dimas, anak temannya. Nah, Gweeny ini kemudian nyuruh Raina untuk pura-pura menjadi dirinya. Tujuannya, untuk mencari tahu gimana itu si Dimas. Sampai sini, alurnya ftv banget kan? Oh, yes, gue nggak menikmati ceritanya di awal-awal itu, tapi yang sangat gue nikmati adalah komedi di awal-awal filmnya. Meriam Bellina dengan logat sundanya, PECAH! Semua penonton di bioskop pada ketawa! Di tambah lagi Miqdad Addausy yang perannya rada kebanci-bancian, sumpah gue ngakak abis! Sayangnya Miqdad Addausy di film ini cuman jadi bumbu di awal aja. Yah, bisa di bilang, di film ini kita kudu ketawa dulu sebelum akhirnya nangis berdarah-darah.

Nah, rencana Gweeny itu justru membuat Raina cinta sama Dimas. Raina juga sudah jelasin ke Dimas kalau dia bukan Gweeny, tapi Dimas juga ternyata sukanya sama Raina. Dimas nggak peduli deh sama perjodohan itu. Begitu keduanya sudah mulai cinta, muncul konflik dimana Gweeny ternyata suka juga sama Dimas pas mereka ketemu dan Toby yang merupakan sahabat Raina ternyata cinta juga sama Raina. Gweeny marah sama Raina karena Dimas lebih memilih Raina. Kejutan di film ini, ternyata Dimas ini hidupnya nggak lama lagi, lho kok bisa? Nonton sendiri aja ya kalau mau tahu, hueuhue... Masalah semakin meruncing ketika Raina tahu kalau Dimas-lah yang di awal cerita nabrak Dia, tapi sebenarnya bukan sepenuhnya salah Dimas lho, terus kalau bukan sepenuhnya salah Dimas, salah siapa dong? Nonton aja ya kalau pengin tahu, hihihi... Masuk ke bagian akhir, Raina jadi buta, tapi dia dapat donor mata dari Dimas yang meninggal. Namun, Dimas tetap ada dalam kehidupan Raina. Sayangnya, Dimas itu bukanlah Dimas. Kalau ada yang pernah lihat trailernya Magic Hour, ada sebuah conversation dari Raina yang bunyinya gini, "Kamu bukan Dimas, kamu siapa?". Itulah ending ceritanya entar. Penasaran? Nonton aja deh, gue jamin nggak bakal menyesal deh.

Ada beberapa kejutan di Magic Hour ini, ada yang di kemasnya dengan alur maju mundur sehingga kita sebagai penonton pasti akan bergumam, "Ooooo, gitu...". Selain romance, kita juga disajikan dengan banyolan-banyolan pengocok perut yang gue jamin pasti pada ketawa, nggak nanggung. Overall, gue puas sih karena pada akhirnya film ini bisa menguras emosi penonton. Banyak yang nangis lho di bioskop, gue pengin nangis juga sih, tapi entar tingkat kegantengan gue menurun kalau gue nangis, halah. Menurut gue, Screenplay Productions cukup sukses dengan film magic hour ini, akting para pemainnya juga bagus. Untuk cerita, mungkin gue sedikit rada kurang sreg aja di ending, tapi itu masalah selera aja, yang jelas film Magic Hour ini recommended banget untuk kalian yang suka film romance yang di balut komedi.
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑