Saturday, 23 April 2016

Nulis Buku & Nulis untuk Station TV, Enak Yang Mana?

Banyak orang di zaman sekarang yang pengin jadi penulis. Perkembangan keinginan jadi penulis lebih banyak dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, gue nggak tahu kenapa itu bisa terjadi. Nah, biasanya sih orang pengin jadi penulis karena kerjaannya tuh enak, kita cuman tinggal nulis, terus uang masuk deh. Kenyataannya, nggak seperti itu, jadi penulis tuh berat bro! Bayangkan, untuk sebuah novel misalnya, kita harus menulis minimal 70 halaman, tapi honornya cuman 10% dari penjualan. Iya kalau buku nya laku berat, kalau nggak? Bahkan untuk beli gorengan aja cuman dapet berapa biji. Ada juga motivasi berkarya adalah alasan orang untuk nulis buku. Kalau itu, biasanya orang nggak memikirkan uang, yang penting karya nya ada di toko buku. Sayangnya, penerbit mayor kita sekarang membatasi genre. Sekarang, yang lagi booming itu genre romance dan komedi lihat aja di toko buku persentase buku dengan genre itu lebih banyak, di susul kemudian genre horor/thriller. Penerbit, tetap melihat pasar, padahal banyak orang Indonesia yang gemar menulis genre fantasi juga lho semacam Harry Potter, Narnia, The Hunger Games, dll. Untuk genre fantasi, penerbit masih lebih suka menterjemahkan dari buku luar, sedikit sekali novel fantasi yang berasal dari orang Indonesia, kalau dibandingkan sama genre lain persentase nya jauh banget. Makanya, sekarang jalur indie banyak jadi pilihan untuk menyalurkan passion dan idealisme, tapi kelemahan jalur ini kita harus membayar. Penulis buku itu berat, kita harus mengikuti pasar, setelah mengikuti pasar pun belum tentu tulisan kita di terima penerbit, setelah itu belum tentu penerbit kita amanah dengan melaporkan hasil penjualan yang sebenarnya. Coba, siapa yang tahu berapa banyak buku kita yang terjual dari toko buku di seluruh Indonesia? Yakin semua penerbit melaporkan hasil penjualan buku kita yang sebenarnya tanpa dikurangi? Belum tentu semua penerbit amanah, bukan berarti nggak ada penerbit yang amanah lho ya. Makanya dalam hal ini, kita harus survey dulu penerbit mana yang sekiranya jujur. Kalau kita belum punya nama, akan sulit rasanya buku kita jadi laku. Memang beberapa nama seperti Raditya Dika dan Andrea Hirata sudah melakukan itu, tapi mereka adalah sebagian kecil yang sukses walaupun tanpa nama ketika itu. Gue salut banget sama kedua penulis tadi, bahkan nama pertama jadi inspirasi gue untuk jadi manusia alay.

Sekarang, kita beralih ke sudut pandang lain, yaitu nulis untuk kebutuhan station televisi. Kalau ini, jelas motivasi nya adalah uang dan nama. Ada juga yang penting uangnya aja, nama mau masuk tipi atau nggak bodo amat. Intinya, nulis untuk station tv itu enak, lebih bisa menjamin kebutuhan sehari-hari, bahkan kalau sudah jadi kepercayaan PH dan nulis skenario sinetron misalnya, bisa tuh honornya untuk beli rumah atau beli stok mie instan selama dua tahun. Tapi, kita harus lebih dulu mencari koneksi orang PH yang terpercaya, jangan sampai ada pembajakan ide. Inilah sulitnya, terkadang kita sudah menilai orang itu baik, tapi ternyata di kemudian hari baru terbongkar kalau orang itu buruk. Kabar baiknya, setiap waktu tuh PH membutuhkan penulis. Contohnya, orang yang pengin nulis untuk FTV nggak pernah sepi, di facebook sama twitter gue selalu aja ada yang nanya gimana cara kirim tulisan ke PH. Masalah berikutnya adalah kalau kita benar-benar orang baru, akan kerasa banget betapa sulitnya tulisan kita di approve sama pihak televisi. Itulah kenapa banyak yang nyerah duluan. Bahkan ada kok orang yang ngirim 100 cerita FTV, baru di terima 1. Gue salut sama orang-orang yang kayak gitu. Nggak mudah nyerah dan selalu berpikiran positif adalah kunci masuk industri ini. Selain itu bagaimana kita menjalin hubungan sesama penulis dan orang PH nya juga penting karena sudah kodrat kita untuk jadi makhluk sosial, hehe... Makanya nih, gue baru ngerti sekarang, kok penulis skenario dan cerita di tv ini banyak yang nggak bikin buku ya? jawabannya jelas, motivasi di industri ini adalah uang, selain itu deadline juga ngebuat penulis skenario nggak punya cukup waktu untuk nulis buku. Kita jangan munafik, kita hidup butuh uang. Ngapain nulis buku banyak kalau pada nggak laku. Bahkan, satu honor penulis ide cerita ftv aja sudah setara dengan 100 eksemplar honor penulis buku. Penulis buku nunggu laku 100-an buku dulu untuk bisa nyaingin honor 1 ide cerita ftv. Bayangkan ketimpangan itu. Yaaa, tapi kan kalau itu motivasi nya uang, kalau motivasinya ingin berkarya dan menyalurkan idealisme kita ya nulis buku pilihan yang tepat soalnya di industri tv ini kita harus ngikut apa keinginan station tv dan PH.

Mau nulis untuk jadi buku maupun nulis untuk keperluan di station tv itu sama-sama membutuhkan waktu yang lama untuk di kenal. Tergantung motivasi kita nulis tuh untuk apa? Coba tanya di diri sendiri dulu. So, keduanya ada sisi positif dan negatifnya. Enak yang mana? Ya jelas, enakan makan cilok gratisan. Oke, sampai di sini dulu postingan ini gue tulis dengan menggunakan keyboard laptop. Mudah-mudahan bermanfaat. Ciao..

Thursday, 14 April 2016

Kenapa Sinopsis FTV Kita Di Tolak? (@SCTV)

Helow eperibadeh, di postingan ini gue lagi-lagi akan membagikan pengalaman selama nulis sinopsis atau cerita FTV ya. Rada tergugah nulis ini karena selama ini ada beberapa orang yang nanya gimana sih biar bisa di acc? Gue juga nggak bisa ngasih jawaban pasti karena parameter cerita kita di terima tuh terkadang nggak bisa di tebak dan gue juga masih sering di tolak. Tapi, paling nggak ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar sinopsis yang kita buat bisa lebih baik dan nggak 'dibuang' sebelum reviewer membacanya sampai habis. Dalam kasus ini adalah FTV yang tayang di sctv. Apa aja itu? Berikut ini gue jabarin beberapa hal yang bisa bikin sinopsis ftv kita di tolak:

1. Plot Terlalu Sederhana
Rasanya ini sudah cukup jelas ya. Bukan cuman di sctv, tapi di station tv lain juga pasti menuntut kita untuk membuat plot cerita yang menarik di mana terdapat konflik yang menarik di sana. Contohnya di ftv romance komedi kayak yang di sctv, kita nggak bisa lagi untuk membuat cerita yang murni hanya memainkan 3 karakter di sana yang bertema cinta segitiga. Memang, cerita cinta segitiga itu masih bisa di eksekusi tapi dengan konflik yang berat, seperti film lebar Talak 3. Di film itu, kisah cinta segitiga nya menurut gue terlalu berat untuk di angkat ke ftv dan terlalu sayang kalau cuman dijadikan ftv. Di ftv sctv, sekarang gue lihat minimal ada permainan 4 karakter di sana, tapi harus dengan plot yang lebih menarik dan unik dari sinopsis yang memainkan 6 karakter.

2. Plot Terlalu Rumit
Plot terlalu sederhana gak boleh, terlalu rumit juga gak boleh, Lu ngajak ribut Feb? Yah, begitulah, plot juga nggak boleh terlalu rumit, perhatikan durasi dan penonton. Jangan sampai, kita membuat sinopsis yang terlalu banyak percabangannya karena biar bagaimana pun penonton FTV ini banyak dari kalangan remaja, mereka masih perlu jeda untuk tersenyum, jangan kita buat dahinya berkerut terus. Gue pernah di tolak karena alasannya ini, ya kaget sih karena biasanya di tolak karena terlalu sederhana, eh, ini malah terlalu rumit. Pas gue baca lagi, memang sih, konfliknya kebanyakan! muahahaha...

3. Tema Jangan Terlihat Mengerikan
Ini mungkin yang jarang dialami. Gue pernah di tolak karena nulis tema tentang usaha sepatu tapi dari kulit ular. Mulai dari megang ular sampai ngebunuh ular buat diambilin kulitnya jadi sangat mengerikan kalau divisualkan. Jatuhnya bukan jadi ftv komedi romance, tapi malah thriller romance. Halah... Maka dari itu, kita harus benar-benar cermat memilih, apakah yang kita tulis tampak mengerikan ketika divisualkan nanti. Jangan gara-gara mau ambil tema unik kayak 'Pacarku Pawang Buaya', kita lanjut aja nulis. Kan sayang bakal buang waktu kalau tahu ujungnya di tolak.

4. Tema Jangan Terlihat Ambigu
Analoginya seperti ini, lo dihadapkan pada seorang teman yang lagi bawa 2 gelas di kedua tangannya. Gelas itu, sama-sama isinya air bening/ putih, lalu teman lo itu nanya, "Hayo tebak, yang mana nih yang air zam-zam?". Bingung kan? Iya, begitu juga nulis sinopsis FTV ini. Misalnya kita angkat tema air zam-zam, entar secara visual penonton bertanya-tanya, "Bener gak tuh air zam-zam??". Sama kayak stand up comedy lah yang materinya believable atau unbelievable. Lalu ada pertanyaan nih, "kalau gitu gimana dengan susu? kan orang juga bingung itu susu sapi, kambing atau susu mbok Darmi?". Jawabannya sederhana, kalau kasus untuk susu ada penguatnya yaitu temanya di ambil sapi atau kambing? Biasanya sapi dan itu sudah cukup menghilangkan keambiguan susu di sana. Yah, kira-kira gitu lah dengan maksud ambigu di sini.

5. Jangan Terlalu Drama
FTV di sctv itu mengusung tema romance komedi dan sebagai media hiburan ringan di pagi, siang serta malam hari. Jadi, sebisa mungkin kita jangan membuat sinopsis yang full 100% drama. So, selipkan gimmick-gimmick komedi,, misalnya ada cowok yang suka sama cewek, eh, ternyata bokapnya si cewek itu mantan pegulat yang dadanya bisa goyang-goyang. Ada sesuatu yang secara visual bisa membuat penonton tertawa di situ, di mana ekspresi ketakutan si cowok melihat dada Bokapnya si cewek itu goyang-goyang. Nggak perlu banyak komedi nya, yang penting secara visual itu dapat terbayangkan lucu nya.

Mungkin 5 poin itu aja cukup sebagai warning untuk kita, termasuk gue juga, kalau mau membuat cerita atau sinopsis untuk keperluan FTV SCTV. Bukan berarti gue jago dan nggak pernah ditolak dari 5 poin itu tadi ya, sering banget gue di tolak karena 5 poin itu. Intinya di sini, gue cuman membagikan pengalaman gue aja bagi siapa pun yang pengin mencoba nulis cerita atau sinopsis ftv sctv ini. Secara pribadi, buat yang masih kuliah atau lagi nganggur cari kerja apa salahnya mencoba nulis cerita atau sinopsis untuk ftv, baik itu di sctv maupun station tv lain. Yah, daripada ngahuleng nggak jelas dan nggak ada hasil kan mending nulis aja siapa tahu iseng-iseng berhadiah. Tapi, sebelum itu kita juga harus mencari relasi yang bisa menghubungkan kita dengan PH dan relasi itu harus lah orang terpercaya untuk menghindari penjiplakan karya. Buat yang mau tanya-tanya tentang sinopsis ftv ini ke gue, jangan ragu kontak twitter atau fb gue aja ya.. Ciao!
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑