Tuesday, 12 September 2017

Review Film IT: Salah Satu Film Misteri Terbaik Tahun Ini!


Gue sebenarnya gak ada niat nonton nih film. Jam 8 malem, nonton film horror pula, bukan gue banget! Iya, gue tuh penakut orangnya. Tapi, berhubung nih film IT rating imdb nya nembus di angka 8 dan merupakan adaptasi novel nya Stephan King, gue langsung pengin nyoba nonton. Seberapa oke sih ini film sampai imdb nya dapet 8 koma sekian?

Adegan mencekam sudah dirasakan di awal Film. Georgie, yang merupakan adiknya Bill, lagi main perahu kertas, berlarian di tengah hujan yang deras. Di sebuah momen, perahu kertasnya Georgie ini masuk ke dalam sebuah gorong-gorong. Di saat itulah Georgie ketemu sama badut Pennywise yang muncul dari dalam gorong-gorong mengambil perahu kertas Georgie. Keduanya pun berdialog dan tampak Georgie senang dengan sang badut. Tapi, begitu Georgie masukin tangannya ke dalam gorong-gorong hendak mengambil perahu kertasnya, tiba-tiba sang badut menggigit tangan Georgie yang unyu itu sampai lepas lalu menyeretnya ke dalam gorong-gorong. Si Kakak, Bill, masih meyakini kalau adiknya itu pasti masih hidup. Petualangan Bill dalam menguak misteri adiknya dan anak-anak yang menghilang secara misterius pun dimulai bersama keenam temannya, Beverly, Ben, Richie, Mike, Eddie dan Stanley. 

Bisa di bilang geng nya Bill ini adalah geng para loser yang selalu di bully di sekolahnya, terutama sama geng nya Henry, yang menurut gue sadis banget untuk remaja seumuran mereka. Gue suka banget sama plotnya Bill, Richie, Eddie dan Stanley pas ketemu sama Ben, Beverly dan Mike. Semua begitu tertata dengan segala problem yang dialami masing-masing karakternya. Ngomongin soal karakter, aspek itu jugalah yang bikin film ini jadi bagus. Sutradaranya menurut gue berhasil menggambarkan satu per satu karakter dalam film ini, menggambarkan sifat dan ketakutan mereka masing-masing dengan sangat sempurna. Nah, si badut Pennywise yang muncul setiap 27 tahun sekali ini justru kuat pada saat mereka ketakutan. Makanya, si badut meneror satu per satu dengan ketakutan yang ada di dalam kepala mereka.

Jangan di kira kalau film horror ini full horror. Tenang, masih ada selipan-selipan plot yang bikin kita tuh tertawa. Sang sutradara ini sepertinya gak lupa kalau tokoh dalam film adalah para ABG, yah kalau di Indonesia sih SMP-SMA gitu lah. Banyak juga kejadian-kejadian yang mengundang tawa yang.... gak deh, gak mau gue ceritain entar gak seru, huehue... Oh, iya setting cerita di dalam film ini tuh adalah sebuah kota kecil bernama Derry. Seperti yang gue tulis sebelumnya, kalau di kota ini tuh banyak anak-anak yang menghilang secara misterius. Hal itu tuh berhubungan dengan peristiwa tempo dulu, sebuah peristiwa kelam yang terjadi pada sebuah pabrik. Makanya, para orangtua digambarkan sangat protektif ke anak-anaknya di kota ini. Terutama Bapaknya Beverly dan Ibu nya Eddie, yang sampai ketakutan kalau mereka bergaul dengan orang yang salah.

Film IT ini menurut gue gak ada masalah sama sound dan pengambilan gambarnya. Lezat banget gan! Dari awal, sentuhan musik sama pengambilan gambarnya tuh menurut gue kawin banget. Adegan-adegan horor nya pun ada beberapa yang fresh. Dua jam lebih gue yang terbuang gak terasa sia-sia. Sayangnya gue kurang suka plot waktu Beverly dan Henry yang ngebunuh Bokap mereka masing-masing, yang dibiarkan habis begitu aja layaknya Rambo setelah membunuh musuh-musuhnya. Efek ngagetinnya gimana? Jangan di tanya lagi, malah sampe ada penonton di seberang gue yang loncat dari kursinya, sob! Pokoknya, film IT ini sempurna deh untuk kalian yang hobi banget nonton film horor. Antusiasnya pun luar biasa, jam 8 malem di hari biasa, bioskopnya full! Rating pribadi gue kasih 4,5/5 untuk film ini. Semoga film IT ini menginspirasi sineas-sineas kita untuk membuat sebuah film horor yang yang punya nilai gizi yang tinggi.

Sunday, 3 September 2017

Review Film Warkop Jangkrik Boss Part 2: Penasaran Yang Sia-sia






Film jangkrik boss 1 sudah oke dan cukup membuat gue penasaran di endingnya. Begitu muncul nih reborn part 2 nya, gue jadi makin penasaran gimana kelanjutan komedi absurd ini. Yah, seperti judulnya, rasa penasaran gue bisa di bilang sia-sia. Mungkin karena gue terlalu berekspektasi lebih kali ya. Gue nggak mau bahas panjang lebar di postingan kali ini. Sebagai seseorang yang memposisikan diri sebagai penonton netral, gue berani bilang kalau part 2 ini nggak lebih bagus bahkan gak menyamai part 1 nya. Kenapa?

Pertama, akting. Yup, di part 1 gue ngeliat akting semua pemainnya yah okelah. Di part 2 ini, entah kenapa berasa ada yang kurang terutama di sisi Vino yang berperan sebagai Kasino nya. Akting terbaik tetap Abimana yang berperan sebagai Dono kalau menurut gue, tapi di part 2 ini pun seperti ada penurunan, entah karena bagian Dono terasa lebih sedikit atau gimana kurang ngerti juga. Untuk Tora Sudiro yang berperan sebagai Indro yang menurut gue stabil, tapi stabil nya itu bukan stabil oke lho ya. Mulai dari ekspresi, pelontaran kalimat sampai delivery kelucuannya ketiganya sedikit mengalami penurunan. Komedi nya di beberapa part jadi terasa banget dipaksainnya.

Kedua, komedi. Nah, sudah ada bocoran di atas tuh komedinya terasa dipaksain di beberapa part. Gue nggak mau ngebedah isinya lebih dalem, entar jadi spoiler. Menurut gue, ada kalimat-kalimat yang sebenarnya sih dimaksudkan untuk ngelucu, tapi nggak tersampaikan dengan baik. Terasa dari respon penonton di bioskop yang biasa aja, ada yang ketawa tapi cuman beberapa. Komedi-komedi yang Indro pake bra, tetek Vino membesar, muka Kasino nemplok di pintu dan lainnya yang mengeksploitasi fisik justru yang mendapatkan banyak tawa. Berasa sayang aja, komedi verbal yang seharusnya jadi kekuatan Warkop juga kurang mendapatkan tawa penonton. Menurut gue, masih kalah dengan My Stupid Boss yang komedi verbal nya juga oke. Malahan nih, Jangkrik Boss part 2 ini lebih lucu scene yang salah-salah nya di akhir film. hmm...

Ketiga, Adegan Nyanyi yang nggak efektif alias ngabisin durasi! Gila, maksudnya sih untuk mengingatkan lagi lagu-lagu legendaris Warkop plus ngasih sentuhan komedi di dalamnya, tapi kok biasa aja. Ada dua kali adegan nyanyi yang menurut gue cuman usaha untuk membuang durasi, sayang banget. Gue masih inget, di Jangkrik Boss part 1, si Kasino nyanyi 'yang baju merah jangan sampai lolos', tapi itu berhubungan sama plot nya. Tapi yang kedua ini enggak. Nih, adegan nyanyi nya tuh pas naik kapal sama pas mimpi, itu menurut gue nggak banget.

Keempat, cerita. Kekhawatiran gue akan banyaknya bagian-bagian yang seharusnya di buang akhirnya terjadi. Iya, akhirnya itu berimbas dengan ceritanya. Gue penasaran banget pas mereka itu ke pulau tanpa penghuni nya. Gue demen sudah menyelipkan komedi horor, tapi begitu tahu kalau yang jahat adalah si "itu", gue langsung ngucap kalau film ini sudah selesai. Memang sih menghadirkan sebuah plot yang mengejutkan, tapi berasa cepet aja gitu. Terus, begitu terkuak kalau harta karunnya adalah blablabla, gue langsung mikir ngapain jauh-jauh ke Malaysia? Di Indonesia juga bisa di eksplor kok pulaunya. Setelah filmnya selesai, gue mikir lagi nih, kalau di part 2 begini, kenapa nggak disatuin aja di part 1, bisa kok dengan segudang pengalaman orang-orang yang terlibat di dalamnya gue yakin bisa.

Oke, baiklah, dari penjabaran gue di atas tadi, gue ngasih nilai 3/5 untuk Jangkrik Boss Part 2 ini. Di balik kekurangannya, gue apresiasi visual effect nya dan kerja keras Vino, Tora dan Abimana untuk memerankan ketiga tokoh komedi legendaris Indonesia itu. Masih okelah untuk jadi hiburan bareng keluarga dan pacar, tapi pesan gue cuman 1: Jangan berekspektasi terlalu berlebihan untuk part kedua ini.
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑