Monday, 17 March 2014

Review Kilat Film Comic 8 dan 4 Tahun Tinggal di Rumah Hantu

Film Indonesia. Jujur sih, gue rada gimanaa gitu kalau ke bioskop ada film Indonesia. Genrenya kalau enggak drama cinta ya horor yang sok-sok horor. Paling cuman 1-2 film Indonesia di bioskop yang layak ditonton, itu pun juga musim-musiman. Nah, karena gue bingung mau nulis apa, gue memutuskan untuk nge-review secara singkat dan enggak padat tentang dua film Indonesia yang terakhir gue tonton dengan do'i.

1. Comic 8



Rada telat sih gue nge-review nih film karena sudah enggak ada lagi di bioskop, tapi gak apa-apa deh daripada enggak sama sekali, siapa tau keluar bajakannya entar, hahai... Sebenernya gue ragu sama nih film. Bakal lucu gak ya komedinya? soalnya, gue belum pernah lihat trailernya. Tapi, si do'i lain cerita, dia pengin banget nonton tuh film. Ya udah, kita nonton dan dompet gue pun mengering dengan pesatnya. Film ini bercerita tentang 8 orang yang punya motif berbeda-beda dalam merampok Bank yang sama. Latar belakang tokoh diceritakan dengan jelas di film ini. Kalau menurut gue sih, lawakannya lucu abis, seluruh penonton di bioskop ketawa. Adegan action-nya, secara mengejutkan, ternyata bagus juga. Apalagi sound sama efek-efeknya kelihatan enggak murahan. Dari segi cerita? jempol. Kita disuguhkan dengan alur mundur-maju-mundur yang mantap. Kelihatan banget kalau pembuatan skrip nih film pasti dipikirkan matang-matang. Bisa dipastikan, akhir dari ceritanya gue jamin banyak yang enggak nyangka. Semua serba kejutan di film ini. Bocoran nih, perampok itu bukanlah perampok. Lalu siapa mereka? Download aja entar bajakannya kalau ada, haha... Yang jelas, ini recomended baget buat yang pengin nonton film komedi di balut action.

Nilai Keseluruhan: 9 / 10

2. 4 Tahun Tinggal di Rumah Hantu



Ceritanya berasal dari novel best seller dengan judul yang sama (Ya iyalahh....). Gue langsung mikir, "Wah kayaknya bagus nih, novel best seller gitu loh!". Ekspektasi gue pun mendadak besar setelah mendapatkan fakta itu. Maklum, abis film JELANGKUNG yang awal banget dulu, gue belum pernah nonton film horor Indonesia yang buat gue takut ke WC lagi. Jujur, gara-gara film Jelangkung, gue kadang kalau keramas suka ngelihat ke atap. Iya, hantu anak kecil di film itu yang suka ada di atap, ngebuat gue parno dulu. Nah, apakah film ini berhasil ngebuat gue parno kayak film Jelangkung tersebut? jawabannya adalah TIDAK. Sangat disayangkan. 

Walaupun gue belum pernah baca novelnya, gue cukup ngerti kenapa tuh novel jadi best seller karena dari segi ceritanya emang sebenernya bagus sih. Tapi, gue enggak tahu, apakah karena terburu-buru atau kurang dana, eksekusi film-nya terlihat enggak optimal. Gue sempat enggak habis pikir, kok novel best seller dikerjain dengan sembarangan gitu. Ini penulisnya dilibatin apa enggak gue sih gak tau. Sumpah, yang bikin gue eneg di film ini adalah sound-nya. Musiknya kebanyakan sampai-sampai ada conversation yang enggak kedengeran. Ada hantu ataupun enggak ada hantu musiknya selalu JREEENGGG!, itu untuk apa! Belum lagi ada efek-efek ala sinetron laga Indosiar, puncaknya efek lantai retak yang culun abis. Untuk make-up hantunya, oke-lah lumayan. Untuk efek kejutnya, lumayan-lah. Nah, menurut gue sih, bagi yang suka horor, gue enggak merekomendasikan film ini untuk ditonton. Tapi, ini cuman penilaian gue aja kok, yang penasaran silahkan nonton.

Nilai Keseluruhan: 4 / 10

Apa pun penilaian gue untuk kedua film tersebut, gue ingatkan lagi cuman penilaian dari diri gue pribadi sendiri. Gue enggak memaksa untuk nonton atau enggak. Dukung terus dunia perfilm-an Indonesia!

Monday, 10 March 2014

Fiksi Komedi: Geng Rantip | Berawal Dari Kantin Sekolah (Bag.1)


Tiba-tiba tatapan cewek bohay itu beralih ke arah ventilasi. Gue kaget dan dengan spontan tingkat tinggi gue langsung turun dari kursi kayu tempat gue berdiri dan berlari ke kantin. Tempat dimana dua sahabat gue, Iwok dan Ajun telah menunggu. Kantin sekolah kami tuh sumpah enak banget, yah namanya juga sekolah elit gitu loh. Lantai kantinnya yang dari keramik bersih dan ruangannya yang gede sampai ada 15 stand makanan jadi jurus tersendiri untuk memikat kami, para siswa dan siswi, untuk makan disana. Gimana dengan jenis makanannya? semua ada! Lo mau nasi goreng, bakso, mie ayam, roti buaya, semua ada! Cuman ya itu, yang jualannya ibu-ibu semua. Bahkan, ada yang udah nenek-nenek, jualan surabi! Sebagai lelaki sejati, gue sih pengen yang jaga tuh SPG rok mini, but oke-lah yang penting ada kantin.

Setelah sampai di kantin yang cat temboknya berwarna abu-abu itu, gue ngeliat Iwok sama Ajun lagi enjoy menikmati makanan dan minumannya masing-masing di sebuah kursi kayu panjang yang udah di cat warna biru muda di tengah-tengah kantin. Iwok lagi nyeruput kopi luwak yang satunya dijual dua ribu lima ratus rupiah dan Ajun lagi nyeruput kuah bakso.


“Kebiasaan lu, lama banget dah ngintipnya!” tegas Iwok.

Gue bukannya mau menjelek-jelekkan Iwok nih, tapi Iwok ini orangnya emang udah jelek dan enggak bisa diselamatin lagi kejelekannya. Beda dengan gue yang punya badan kurus tapi hidung mancung dan berkulit putih, Iwok ini perutnya mancung kedepan dan tumbuh subur kesamping. Hidungnya juga pesek dan kulitnya sawo mateng, ditambah rambutnya keriting dan berkacamata. Yah, kalo untuk ngusir kecoa di kantin sih boleh-lah.

Gue kemudian duduk di samping kiri Ajun, “Sory, itu kan tugas dari Pak Hasibuan. Gue kan cuman menjalankan tugas.”

“Emang, siapa sih yang lu intipin? Sssshh.. Haaaahh…, ” Ajun nanya sambil mendesah-desah kepedasan.

Cowok yang lagi nanya ke gue itu orangnya rada gantengan. Kulitnya putih, rambutnya di jambul depan gitu kayak Tintin, hidungnya mancung dan matanya sipit. Tapi, sayangnya ada tompel kecil di pipi sebelah kirinya. Tompelnya imut sih, tapi itu ngebuat kegantengannya berkurang satu tingkat. Badannya? Sama aja kayak gue, kurus.

Gue mencomot sebutir bakso Ajun pake garpu, “Pertanyaan lo itu sederhana tapi cerdas, Jun. Gue tadi ngintipin si Salsa. Itu loh, cewek kelas 2 IPS 2. Gue mencurigai Dia sebagai salah satu cewek cabe-cabean di sekolah kita.”

“Ya tapi kan enggak harus sampe lu intip ke WC juga kaleee…”

“Lah, kan WC tuh spesialis gue.”

Ajun garuk-garuk kepala, “Oh iya ya.”

“Emang, kalo udah ketangkep, tuh cewek cabe-cabean mau diapain sama Pak Hasibuan, Ton?”

“Kata Pak Hasibuan sih mau dikasih nasihat Jun, dikasih arahan gitu.”

“Berarti lo ngeliat pemandangan mantap ye tadi? Ngaku lo Ton, lo ngeliat apanya Salsa hayoo??” Iwok natap gue dengan senyuman menjijikkan seolah gue ini orang yang mesum. Tapi emang sih… sedikit.

“Mantap apanya, liat dia buka rok aja kagak. Tapii…”

“Tapi apa, Ton?” Iwok makin penasaran.

“Gue ngeliat Salsa ngubek-ngubek Bra-nya bro!!” gue ngacungin jempol ke hadapan Iwok dan Ajun. Berharap mereka iri.

“Beuh mantap tuh broo, terus?” Ajun terpancing.

“Terus… keluar lipstik! Dia make-up an, hahaha…”

“Kampret. Gimana ceritanya tuh lipstik sampe ada disanaaa!!” Ajun histeris.

****

Categories:

Monday, 3 February 2014

Tips-Tips Nulis Sinopsis Untuk FTV

Sejak sinopsis FTV yang gue buat di film-in satu, lumayan banyak yang nanya gimana sih biar diterima diantara ribuan sinopsis lainnya yang masuk? jujur, gue juga enggak tau, tapi setidaknya gue punya beberapa kisi-kisi nih yang dikasih salah satu 'suhu' gue, Pak Puguh PS Admaja, biar sinopsis kita paling enggak kemungkinan besar diterima. Inget ya, ini khusus untuk ftv bergenre drama Romance Komedi yang kayak di SCTV sama RCTI gitu, bukan horor yang kayak di Trans. Oke, langsung aja ini email yang dikasih Pak Puguh ke gue:

Dear temans penulis,

Hanya sekedar mengingatkan.

Untuk setiap sinopsis yang dikirimkan, harus rata atau padat muatan konfliknya di sepanjang cerita. Dari opening hingga ending. 
Jangan membuat cerita dengan plot tunggal. Tambahkan sub plot yang konfliknya akan mendukung konflik plot utama menjadi kuat. Namun begitu jangan menjadi drama. Karena cerita komedi romantis tetap diwajibkan. 

Tema cerita masih sama :
1. Remaja SMA yang dikombinasi dengan dewasa kuliahan/kerja.
2. Dewasa kuliahan/kerja.
3. Tokoh dengan karakter/hobi/profesi yang unik.
4. Panjang halaman sinopsis boleh sampai 4 lembar yang penting cerita berisi konflik kuat.

Nah, gue perjelas kalimat-kalimat yang gue kasih warna.
Pertama, kalimat warna merah. Konflik yang rata dari awal sampai akhir. Inget ya, dari awal sampai akhir, bukan konflik yang tiba-tiba ada di pertengahan menuju akhir aja. Ini yang suka luput dari pandangan penulis sinopsis ftv baru kayak gue. Ternyata, konflik itu juga harus ada sejak awal cerita.
Kedua, kalimat warna hijau. Maksudnya, kita jangan cuman mengandalkan satu plot aja. Misalnya, kita ambil tema mahasiswa yang suka sama dosennya, terus kita buat satu sinopsis itu isinya cara si mahasiswa ngejer-ngejer dosennya aja, tanpa adanya peristiwa-peristiwa lain. Jangan kayak gitu. Buat juga sub plot misal si dosen itu ternyata udah di jodohin sama ortunya sementara si mahasiswa itu juga udah ada pacar yang sebenarnya gak dia suka. Nah, ternyata si pacar mahasiswa itu selingkuh dengan cowok yang dijodohin sama si dosen. Dengan begitu, konfliknya jadi berliku.
Ketiga, kalimat warna biru. Simpel. FTV bersifat menghibur. Jadi, mereka lebih suka cerita romance yang ada unsur komedinya. Makanya nih FTV tuh aneh-aneh, ada yang tukang sate dapet anak orang kaya lah, ada yang security jadinya sama anak majikannya lah, dll. Inget, sinopsis yang kita buat, harus bisa diselipin komedi.

Kalau untuk tema cerita, kayaknya di atas udah jelas. Untuk tema, terkadang gue nemuin yang sama. Misal, mahasiswa yang suka sama dosennya tadi atau siswa yang suka sama gurunya. Iya, terkadang gue nemuin ftv dengan tema yang sama tapi beda. Bedanya di konflik. Kalau kata gue sih, walaupun tema kita udah ada, enggak ada salahnya kita coba karena siapa tahu konfliknya beda. Selain itu, gue saranin lebih baik buat tema dengan konflik minimal 4 orang. Kalau enggak ya gak apa-apa juga sih, tapi menurut gue peluang diterimanya kecil. Cinta segitiga sekarang udah pasaran dan dianggap enggak begitu unik lagi. Terus, gimana dengan gaya bahasanya? bebas yang penting enggak ada paragraf adegan ranjangnya, hahay... Nulis sinopsis buat ftv yang penting enak dibaca dan dimengerti. Enggak perlu sastra banget yang nantinya justru bakal mempersulit reviewer-nya.

Yah, cuman itu beberap hal yang bisa gue sharing bagi yang berminat. Nulis sinopsis buat ftv memang bagian terkecil, tapi tanpa adanya sinopsis atau ide cerita, sebuah ftv enggak akan ada. Gue selalu yakin, untuk menghasilkan sesuatu yang besar, harus berawal dari hal yang kecil. Selamat berjuang bagi yang berminat berkecimpung di dunia ftv ini.


Buat yang belum baca postingan tentang sinopsis ftv pertama gue (ada file sinopsisnya buat dipelajari): KLIK DISINI.

Monday, 27 January 2014

Projek Komik Strip

Di postingan kali ini, gue mau ngasih tahu sebuah info yang enggak penting sih tapi perlu kalian tau. Info itu adalah gue ngebuat sebuah blog kumpulan komik strip bareng Riyan Hasanin sama Mas Widi Susanto. Gue sama Riyan sebagai ide ceritanya dan Mas Widi sebagai ilustratornya alias pembuat komiknya. Untuk idenya sendiri sih kita sepakat dari sesuatu yang kita anggap aneh yang ada di Indonesia. Mau itu filmnya, artisnya, politikusnya, dll. Pokoknya semua hal yang bisa kita kritisi, kita sampaikan ke dalam bentuk visual. Nah, ini dia penampakan blognya:

http://bacotanbenimulyadi.blogspot.com/

Tuh kan, enggak keren. Nama blognya adalah http://bacotanbenimulyadi.blogspot.com/. Sejauh ini, baru ada 1 cerita yaitu Dadi Buldozer. Sebenernya sih gue sama Riyan udah bikin sekitar 7-8 cerita, tapi berhubung Mas Widinya sibuk, kita cuman bisa update sekitar 1-2 minggu. Penasaran? langsung aja ya mampir ke blognya bacotan Beni dan Mulyadi. Huahuahua....

Thursday, 23 January 2014

Fiksi: Detektif Ujang



MISTERI PENCULIKAN DARI DUNIA FIKTIF

Part 1

Baju dan kolor yang tergeletak disana-sini, sekumpulan bon hutang yang menempel tegas di tembok serta kaleng-kaleng minuman bekas yang belum juga dibuang ke kotak sampah menjadi pemandangan rutin yang memang selalu tampak di kosan Ujang. Sambil merapihkan rambutnya yang ikal, Ujang bercerita ke Dio tentang kasus yang diselesaikannya dengan cepat sekitar seminggu yang lalu. Iya, Ujang selalu memamerkan kemampuannya itu ke Dio. Tapi begitulah Ujang, selalu ceplas-ceplos dan mengutarakan kebolehannya kalau lagi dirundung kebosanan.

Merasa celotehan Ujang itu enggak ada manfaatnya, Dio langsung tiduran dan perlahan menutup matanya yang sipit. Ia merasa enggak perlu lagi meneruskan meladeni cerita Ujang yang ujung-ujungnya pasti terdengar keren. Namun, suara langkah kaki yang berat di tangga membuat Dio mengurungkan niatnya untuk tidur. Sementara, Ujang bersiap menghidupkan rokoknya yang tinggal sebatang.

Enggak lama kemudian seorang pria paruh baya berperawakan tinggi besar, berkumis lebat dan memiliki rambut yang panjangnya seleher berdiri di depan pintu kamar kosan Ujang yang menganga lebar. “Permisi numpang tanya ya, ini kosan Ujang yang biasa nanganin kasus-kasus aneh gitu bukan?” tanyanya sambil memandangi Ujang dan Dio bergantian.

Ujang merespon ucapan itu dengan senyuman. Ia lalu berdiri dan menjabat tangan calon kliennya itu, “Iya, saya Ujang dan itu… yang gak ada rambutnya adalah Dio, teman sekaligus asisten saya. Oh iya, kok anda bisa masuk ya?”

“Iya, saya lihat tadi pagarnya terbuka, jadi saya masuk aja.”

Ujang menghisap rokok dan membuang asapnya ke atas, “Wah, Bapak memang klien yang gak tau malu, jangan gitu lagi ya Pak… nanti anda dikira mau nyolong motor,” sambungnya.

“…………”

Categories:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑