Skip to main content

Review Film Warkop Jangkrik Boss Part 2: Penasaran Yang Sia-sia






Film jangkrik boss 1 sudah oke dan cukup membuat gue penasaran di endingnya. Begitu muncul nih reborn part 2 nya, gue jadi makin penasaran gimana kelanjutan komedi absurd ini. Yah, seperti judulnya, rasa penasaran gue bisa di bilang sia-sia. Mungkin karena gue terlalu berekspektasi lebih kali ya. Gue nggak mau bahas panjang lebar di postingan kali ini. Sebagai seseorang yang memposisikan diri sebagai penonton netral, gue berani bilang kalau part 2 ini nggak lebih bagus bahkan gak menyamai part 1 nya. Kenapa?

Pertama, akting. Yup, di part 1 gue ngeliat akting semua pemainnya yah okelah. Di part 2 ini, entah kenapa berasa ada yang kurang terutama di sisi Vino yang berperan sebagai Kasino nya. Akting terbaik tetap Abimana yang berperan sebagai Dono kalau menurut gue, tapi di part 2 ini pun seperti ada penurunan, entah karena bagian Dono terasa lebih sedikit atau gimana kurang ngerti juga. Untuk Tora Sudiro yang berperan sebagai Indro yang menurut gue stabil, tapi stabil nya itu bukan stabil oke lho ya. Mulai dari ekspresi, pelontaran kalimat sampai delivery kelucuannya ketiganya sedikit mengalami penurunan. Komedi nya di beberapa part jadi terasa banget dipaksainnya.

Kedua, komedi. Nah, sudah ada bocoran di atas tuh komedinya terasa dipaksain di beberapa part. Gue nggak mau ngebedah isinya lebih dalem, entar jadi spoiler. Menurut gue, ada kalimat-kalimat yang sebenarnya sih dimaksudkan untuk ngelucu, tapi nggak tersampaikan dengan baik. Terasa dari respon penonton di bioskop yang biasa aja, ada yang ketawa tapi cuman beberapa. Komedi-komedi yang Indro pake bra, tetek Vino membesar, muka Kasino nemplok di pintu dan lainnya yang mengeksploitasi fisik justru yang mendapatkan banyak tawa. Berasa sayang aja, komedi verbal yang seharusnya jadi kekuatan Warkop juga kurang mendapatkan tawa penonton. Menurut gue, masih kalah dengan My Stupid Boss yang komedi verbal nya juga oke. Malahan nih, Jangkrik Boss part 2 ini lebih lucu scene yang salah-salah nya di akhir film. hmm...

Ketiga, Adegan Nyanyi yang nggak efektif alias ngabisin durasi! Gila, maksudnya sih untuk mengingatkan lagi lagu-lagu legendaris Warkop plus ngasih sentuhan komedi di dalamnya, tapi kok biasa aja. Ada dua kali adegan nyanyi yang menurut gue cuman usaha untuk membuang durasi, sayang banget. Gue masih inget, di Jangkrik Boss part 1, si Kasino nyanyi 'yang baju merah jangan sampai lolos', tapi itu berhubungan sama plot nya. Tapi yang kedua ini enggak. Nih, adegan nyanyi nya tuh pas naik kapal sama pas mimpi, itu menurut gue nggak banget.

Keempat, cerita. Kekhawatiran gue akan banyaknya bagian-bagian yang seharusnya di buang akhirnya terjadi. Iya, akhirnya itu berimbas dengan ceritanya. Gue penasaran banget pas mereka itu ke pulau tanpa penghuni nya. Gue demen sudah menyelipkan komedi horor, tapi begitu tahu kalau yang jahat adalah si "itu", gue langsung ngucap kalau film ini sudah selesai. Memang sih menghadirkan sebuah plot yang mengejutkan, tapi berasa cepet aja gitu. Terus, begitu terkuak kalau harta karunnya adalah blablabla, gue langsung mikir ngapain jauh-jauh ke Malaysia? Di Indonesia juga bisa di eksplor kok pulaunya. Setelah filmnya selesai, gue mikir lagi nih, kalau di part 2 begini, kenapa nggak disatuin aja di part 1, bisa kok dengan segudang pengalaman orang-orang yang terlibat di dalamnya gue yakin bisa.

Oke, baiklah, dari penjabaran gue di atas tadi, gue ngasih nilai 3/5 untuk Jangkrik Boss Part 2 ini. Di balik kekurangannya, gue apresiasi visual effect nya dan kerja keras Vino, Tora dan Abimana untuk memerankan ketiga tokoh komedi legendaris Indonesia itu. Masih okelah untuk jadi hiburan bareng keluarga dan pacar, tapi pesan gue cuman 1: Jangan berekspektasi terlalu berlebihan untuk part kedua ini.

Comments

Popular posts from this blog

Mengenang Kera Sakti (Journey To The West)

Seekor kera, terpuruk terpenjara dalam gua.. Di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa.. Bertindak sesuka hati loncat kesana-kesini.. Hiraukan semua masalah dimuka bumi ini.. Gak, gue bukan lagi buat puisi. Sobat masih inget gak itu penggalan dari lirik lagu apa? Yup, itu adalah lirik dari film yang dulu setiap sore gue tunggu kehadirannya di indosiar. Setelah era ksatria baja hitam RX, banyak banget film anak-anak bermunculan kayak ninja jiraiya dan kawan-kawan. Tapi setelah itu, setelah gue beranjak SMP, gak ada lagi film yang bener-bener membuat booming dunia anak-anak. Memang masih ada beberapa film sih, tapi tema film anak-anak yang gitu-gitu aja membuat kami, rombongan anak-anak SMP dan sederajat, berasa mengalami kebosanan tontonan dan mengakibatkan kami lebih memilih baca komik. Sampai tiba pada saat film kera sakti (Journey to the west) muncul ke dunia pertipian Indonesia. Inilah saat-saat gairah menonton tipi kembali muncul.  Foto 1. Inilah dia keluarga kecil ...

Balada Perut Mules

Warning: Postingan ini akan merusak selera makan anda. Yang lagi makan sebaiknya di stop dulu. Terimakasih. Akhir-akhir ini gue dilanda lagau (baca: galau). Bukan karena cinta, bukan juga karena gue tidak kunjung mendapatkan gelar S1, tapi gue galau karena kondisi perut gue yang gak enak banget. Gue gak tau kenapa ini terjadi. Gue ngerasa ada angin yang muter-muter di perut gue dan gue merasa ada "sesuatu" yang minta dikeluarin dari bokong gue. Sesuatu itu adalah.... ah, di skip aja, kalau gue kasih tau bentuknya gimana, wananya apa, lembek apa keras, ntar para pembaca jadi pada muntah di depan monitor. Melihat ketidakberesan itu, besoknya gue langsung konsultasi sama nyokap. Disaat-saat seperti ini nyokap memang tempat yang pas buat mengadu. "Mah, perut Feby kok mules gini ya, gak enak banget." "Owh, sama dek, mamah sama papah juga gitu, lagi musim." "Lho, memang ada ya musim perut mules gini, Mah?" "Ya ada lah. Mungk...

Mau Promo Buku Pertama Ah....

Di postingan kali ini gue mau share buku pertama gue bersama Riyan Hasanin . Bukunya secara garis besar bercerita tentang cinta dan persahabatan mahasiswa yang ngekos atau secara genre bukunya adalah komedi romance (emang ada genre kayak itu!). Gue sama Riyan mengerjakan naskah buku ini udah dari tahun kemarin, tapi karena kendala ruang dan waktu (sekarang juga masih sebenarnya), jadinya kita pending dan baru bisa di realisasikan sekarang. Cover bukunya kira-kira seperti ini:   Ya, buku kita diterbitkan melalui penerbit self publishing, LeutikaPrio. Semoga kedepannya kita bisa ke penerbit konvensional. Bukunya total ada 203 halaman yang terdiri dari 10 Bab. Yang berminat beli bisa lihat infonya dan pesan di web LeutikaPrio langsung DISINI atau lewat sms ke LeutikaPrio: 0821 38 388 988, sms aja judul sama nama penulisnya. Selain itu, pemesanan bisa juga lewat twitter @radiokonyol . Kalau mau pesan lewat gue juga bisa. Kontak aja twitter gue, FB gue, YM (foktarista), v...