Skip to main content

Review Pengabdi Setan (2017): Jangan Nonton Kalau Punya Penyakit Jantung!



Oke, sebelum memulai review ini, marilah kita berdo'a menurut kepercayaan masing-masing. Berdo'a mulai...... Selesai. Baiklah, gue mulai langsung aja deh ya. Film Pengabdi Setan, Yup, ini film horror yang lagi booming saat ini. Gue nonton di 21 dan hampir semua studio nya diisi sama ini film! Bahkan, gue kesulitan nemuin poster pengabdi setan gara-gara malah banyak poster meme kocak nya di google! Astaga. Seseru apa sih nih film?!

Di awal cerita, penonton disuguhkan sebuah kehidupan keluarga di mana sang Ibu yang merupakan mantan penyanyi terkenal, sedang sakit parah, sebutlah sekarat soalnya udah mau ko'id. Sang anak yang paling gede, kalau gak salah sih namanya Rini, meminta royalti agar paling gak bisa bayar pengobatan ibu nya dan nambah-nambah untuk keperluan keluarga. Tapi, royalti yang di kasih seadanya sehingga adik nya, Tony, terpaksa jual motor untuk nambah keperluan keluarga dan sang Ayah harus ke kota sejenak untuk mencari uang. Intinya, nih keluarga super kesulitan keuangan bahkan rumah nenek mau di jual. Nah, ketegangan dan misterinya sudah tercipta di awal di mana sang Ibu yang lagi sekarat, histeris seperti melihat sesuatu. Pada akhirnya, di sebuah scene, sang Ibu meninggal secara misterius dengan ekspresi yang menakutkan. Hiiiii... Film ini bersetting di tahun 80-an dan menurut gue, suasana dan pemilihan busana di film ini sudah cukup untuk menggambarkan tahun tersebut. Paling gak pandangan gue tentang era 80-an yang gue lihat di tipi-tipi cukup terlukiskan di film ini.

Begitu sang Ibu meninggal, mulai deh banyak kekampretan-kekampretan dalam film ini. Tony yang di ganggu dengan klentingan suara lonceng yang biasa Ibunya gunakan untuk meminta tolong ketika sekarat, sampai Bondy, adiknya Tony yang trauma menyaksikan neneknya mati di dalam sumur. Semua kehorroran tersaji dengan cara klasik; dateng tiba-tiba, JENG JENG, AAAUWWW! di tambah dengan pengambilan gambar dan sound effect yang 'setan' banget. Apalagi suara pintu sama langkah nya itu lho, hadeuh, bikin penasaran apa yang ada setelah nya, tapi bercampur gak mau di lihat juga, takut tiba-tiba hantunya nongol. Oh iya, gue lupa, dalam keluarga ini tuh ada 5 orang yang mencoba survive dari gangguan-gangguan 'dunia lain', yaitu Sang Ayah (Baru 'action' di tengah film karena ceritanya harus nyari nafkah dulu di kota setelah istrinya meninggal), Rini, Tony, Bondi dan Ian. Gue suka akting Ian dalam film ini yang berperan sebagai bocah bisu sekaligus figur penting di dalam  cerita. Kenapa gue sebut figur penting? Ops, spoiler kalau gue ceritain. Terus, gimana ceritanya Feb, bagus gak? Hmm, susah sih ya karena setiap orang punya pandangan berbeda-beda. Menurut gue, kejutan ceritanya menuju ending itu oke lah. Tapi, kalau secara keseluruhan, gue gak bisa bilang kalau ceritanya bagus banget. Yah, kira-kira nilai 7 dari 10 lah untuk sisi ceritanya.

Film ini ada komedinya gak sih? Sedikit, unsur komedi dalam film ini bisa di bilang cuman kumur-kumur aja, namanya juga film horor. Kebanyakan, komedinya tuh antara percakapan Ian dan Bondi, dua bocah yang menurut gue cocok banget deh jadi adik Kakak, hihi... Di film ini, menurut gue, Joko Anwar kembali memamerkan aksi pengambilan gambar dan pengarahan para pemainnya. Asli, gue suka banget sama akting tiap karakternya, sampe ke setan-setannya, apalagi akting Ian itu pasti susah deh ngarahin pemain bocah gitu. Nah, sekarang kenapa Pengabdi Setan? Gue ceritain singkat aja, jadi ada kayak sekte-sekte pemuja Iblis gitu. Sang Ibu, telah salah memilih jalan dan akhirnya, setelah mati, kembali 'pulang' ke rumah sebagai sosok yang menyebalkan untuk para penonton, yup, untuk kita-kita yang nonton! Dasar Setan kampret pembawa lonceng, ngagetin mulu! Udah tau kan sekarang kenapa gue kasih judul Jangan Nonton Kalo Punya Penyakit Jantung?

Daritadi gue ngomongin bagusnya terus ya, sekarang apa yang gak gue suka dari film ini? Lagi-lagi, film horor Indonesia, gak bisa lepas dari sosok Ustadz yang lemah. Oke, gue suka Ustadz di film ini karena pakaiannya gak kayak dukun. Tapi, ada perubahan yang gue rasa terlalu drastis di awal dan akhir. Dari awal cerita, sepertinya ustadz dan anaknya yang bernama Hendra yang bisa melihat setan di rumah Rini itu akan menjadi sosok kuat yang bakal membuat para iblis-iblis itu kelenger, eh, gak tau nya ustadz nya mati dengan sangat mudah. Gue jadi bertanya-tanya, 'itu ustadz bukan sih?', gue takut hal itu akan membuat penonton jadi bertanya-tenya tentang kekuatan do'a. Bahkan, ada scene shalat yang sepertinya shalat itu gak ngefek apa-apa ke hantunya. Mungkin gue terlalu baper ya, tapi menurut gue, apa pun agama yang di bawa ke dalam film horor harus punya strength point tersendiri karena yang di lawan bukan manusia.

So, bagi kalian pencinta horor, dari sisi horornya, ini film sangat layak untuk di tonton. Mayan lah, pasti bakal di peluk-peluk terus sama do'i di dalem bioskop. Ehem ehem..

Rating Pribadi: 4/5 (GOOD)

Comments

  1. review yang baru dong bleh.. pilemnya "Pengabdi Klien"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap om, itu filmnya ditayangin di layar tancep RT mana ya?

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Inilah Dia, tipe-tipe Cewek Di mata Pria!

Jujur gue tuh sebenernya sekarang lagi nulis cerita masa lampau lagi buat postingan yang baru ini, judulnya tuh era berburu belalang, tapi gue pending dulu deh karena tiba-tiba gue mau nulis sesuatu yang penting lagi di dunia percintaan dan pergaulan anak muda. Nah, setelah sebelumnya gue nulis gimana sih ciri-ciri cowok yang lagi jatuh cinta, sekarang gue akan menjelaskan cewek seperti apa sih yang banyak disukain dan dibenci para cowok, Penasaran? Oke, yang jelas ini akan menambah wawasan untuk kalian, cewek maupun cowok dalam dunia percintaan dan pergaulan sehari-hari. Gak perlu ketik REG spasi lagi, cuma butuh koneksi internet kok buat liat nih info. Ehm, kelamaan ya, baiklah inilah dia, tipe-tipe cewek di mata pria:
1. Cewek Cantik (rating: 8/10)
Oke, gak dipungkiri dan gak munafik lagi kalo 98% cowok tuh menilai cewek dari penampilan dulu. Cowok biasanya memiliki sifat yang cenderung bangga apabila mendapatkan cewek yang punya wajah rupawan. Biasanya cowok yang punya pacar cewek c…

Mengenang Kera Sakti (Journey To The West)

Seekor kera, terpuruk terpenjara dalam gua..
Di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa..
Bertindak sesuka hati loncat kesana-kesini..
Hiraukan semua masalah dimuka bumi ini..

Gak, gue bukan lagi buat puisi. Sobat masih inget gak itu penggalan dari lirik lagu apa? Yup, itu adalah lirik dari film yang dulu setiap sore gue tunggu kehadirannya di indosiar. Setelah era ksatria baja hitam RX, banyak banget film anak-anak bermunculan kayak ninja jiraiya dan kawan-kawan. Tapi setelah itu, setelah gue beranjak SMP, gak ada lagi film yang bener-bener membuat booming dunia anak-anak. Memang masih ada beberapa film sih, tapi tema film anak-anak yang gitu-gitu aja membuat kami, rombongan anak-anak SMP dan sederajat, berasa mengalami kebosanan tontonan dan mengakibatkan kami lebih memilih baca komik. Sampai tiba pada saat film kera sakti (Journey to the west) muncul ke dunia pertipian Indonesia. Inilah saat-saat gairah menonton tipi kembali muncul.
 Foto 1. Inilah dia keluarga kecil SunGokong
Gue l…

Kisah Awal Gue Di Bandung

Setelah lulus dari SMA Negeri 3 Bandar Lampung (secara gak sengaja) gue melanjutkan kuliah di Bandung nyusul kakak gue yang udah tamat kuliah. Lo tau gak siapa yang paling sibuk nyuruh kakak gue cariin tempat kuliah yang bagus di Bandung siapa? ya, itu adalah nyokap sama bokap gue. Setiap hari kakak gue (yang namanya Deden) disuruh hunting Universitas swasta yang lagi naik daun di Bandung sama bonyok gue. Sebenarnya sih walaupun gak diterima di ITB sama UNPAD gue diterima di UNILA, salah satu universitas Negeri di Bandar Lampung. Tapi bokap gue gak setuju dan lebih pengen gue ke pulau Jawa, gak tau kenapa, mungkin bokap gue ngerasa gue udah cukup ganteng buat ngelanjutin sekolah di Pulau Jawa, dalam hal ini Bandung, iya gue tau lo mau muntah baca kata gantengnya.
Setelah berminggu-minggu lamanya, akhirnya kakak gue berhasil mendapatkan tempat kuliah yang "mungkin" cocok sama gue. dimanakah itu...

"Pah, Deden ketemu kampusnya, namanya UNIKOM!"

"Oke, kalo gitu …