Skip to main content

Review Film Wiro Sableng: Saatnya Superhero Lokal Berjaya!

Gambar dari google

Kira-kira Wiro Sableng yang ini bakal sebagus sinetronnya dulu yang diperanin sama Ken-Ken nggak ya? Pertanyaan itu berputar di kepala gue pas pertama kali tahu kalau pendekar 212 ini bakal dijadiin film. Pasti bakal beda, jelas, Wiro nya Vino pasti beda sama Wiro nya Ken-Ken. Begitu lihat trailernya, gue rada aneh sih lihat Vino jadi Wiro Sableng, apalagi tone suara Vino sebenarnya rada kurang macho, tapi setelah nonton filmnya justru disitulah keunikan Wiro Sableng yang diperankan sama Vino G. Bastian. 

Film ini langsung dimulai dengan adegan action dimana Mahesa Birawa dan pasukannya menyerang pemukiman dimana keluarga Wiro Sableng kecil tinggal, di Jatiwalu. Yayan Ruhian yang memerankan sosok Mahesa Birawa benar-benar jadi sosok villain yang nyaris sempurna. Di adegan itulah, Ayah dan Ibu Wiro meninggal. Wiro sendiri diselamatkan Sinto Gendeng yang ujug-ujug datang ketika Wiro hampir mati. Disinilah cerita di mulai, Wiro diangkat jadi murid oleh Sinto Gendeng dan setelah di rasa siap Wiro Sableng diperintahkan oleh Sinto Gendeng untuk mencari Mahesa Birawa yang notabene adalah mantan murid Sinto Gendeng yang memilih jalan hitam. Awalnya, Wiro Sableng belum tahu kalau Mahesa Birawa lah pembunuh orangtuanya.

Sebenarnya, plot balas dendam Wiro itu bukan cerita besar film ini. Inti dari film ini adalah petualangan Wiro Sableng yang membantu Raja Kamandaka untuk merebut kembali kekuasaannya dari tangan adiknya sendiri, Werku Alit, yang memberontak. Werku Alit tentunya nggak sendirian, dia di bantu oleh para pendekar termasuk Mahesa Birawa untuk menggulingkan kekuasaan Raja Kamandaka. Disini, setting kerajaannya cukuplah, bagus-bagus banget juga nggak sih. Dwi Sasono yang jadi Raja Kamandaka juga oke aktingnya walaupun tampang komedinya masih rada nempel.

Wiro Sableng di fim ini juga nggak sendirian, dia di bantu oleh Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarizi). Pertemanan ketiganya juga diracik cukup oke walaupun pertemuan Wiro Sableng dengan Dewa Tuak (Andi riff) dan Anggini gue rasa kecepetan. Gimana komedinya? Oke, gue selalu menilai komedi dalam sebuah film dari seberapa banyak penonton di bioskop yang ketawa. Banyak yang terhibur sih sama joke nya, apalagi joke Wiro Sableng dengan Sinto Gendeng dan Bujak Gila Tapak Sakti. Selain itu ada joke khas dari Dian Sidik yang jadi Kalingundil pas kapak Wiro nya hilang. Overall, film Wiro Sableng yang ceritanya ringan dan fighting yang soft ini masih layak lah di tonton sama remaja bahkan anak-anak karena menurut gue ada nilai-nilai moral yang bisa di ambil dari film ini. Oh iya, post credit scene nya keren lho, jangan buru-buru ninggalin bioskop ya!

Penilaian pribadi gue di film Wiro Sableng:
Cast : 7 / 10 (Bukan penilaian personal ya, tapi cast secara keseluruhan termasuk aktingnya)
Efek CGI : 6 / 10 (Tergantung ekspektasi yang nonton)
Cerita : 6,5 / 10 (Standar film-film kolosal)
Komedi : 7,5 / 10 (Penonton yang tertawa cukup banyak)
Action  : 7 / 10 (Sosok Yayan Ruhian sangat membantu di film ini)
Setting : 6,5 / 10 (Beberapa efek CGI menurut gue lebih baik di tempat asli)

Harapan gue untuk sekuel berikutnya ya tentu aja sih efeknya lebih diperhalus dan ceritanya lebih oke lagi. Mudah-mudahan settingnya juga lebih banyak mengeksplor alam Indonesia yang luas ini.

Comments

  1. Permisi, mas.
    Saya membaca tulisan mas yang sinopsis ftvnya sudah tembus ke ph. Bolehkah saya minta kontak orang phnya? Kebetulan saya punya beberapa cerita tentang komedi romatis dan sayang jika hanya dibaca saja.
    Makasih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengenang Kera Sakti (Journey To The West)

Seekor kera, terpuruk terpenjara dalam gua.. Di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa.. Bertindak sesuka hati loncat kesana-kesini.. Hiraukan semua masalah dimuka bumi ini.. Gak, gue bukan lagi buat puisi. Sobat masih inget gak itu penggalan dari lirik lagu apa? Yup, itu adalah lirik dari film yang dulu setiap sore gue tunggu kehadirannya di indosiar. Setelah era ksatria baja hitam RX, banyak banget film anak-anak bermunculan kayak ninja jiraiya dan kawan-kawan. Tapi setelah itu, setelah gue beranjak SMP, gak ada lagi film yang bener-bener membuat booming dunia anak-anak. Memang masih ada beberapa film sih, tapi tema film anak-anak yang gitu-gitu aja membuat kami, rombongan anak-anak SMP dan sederajat, berasa mengalami kebosanan tontonan dan mengakibatkan kami lebih memilih baca komik. Sampai tiba pada saat film kera sakti (Journey to the west) muncul ke dunia pertipian Indonesia. Inilah saat-saat gairah menonton tipi kembali muncul.  Foto 1. Inilah dia keluarga kecil ...

Balada Perut Mules

Warning: Postingan ini akan merusak selera makan anda. Yang lagi makan sebaiknya di stop dulu. Terimakasih. Akhir-akhir ini gue dilanda lagau (baca: galau). Bukan karena cinta, bukan juga karena gue tidak kunjung mendapatkan gelar S1, tapi gue galau karena kondisi perut gue yang gak enak banget. Gue gak tau kenapa ini terjadi. Gue ngerasa ada angin yang muter-muter di perut gue dan gue merasa ada "sesuatu" yang minta dikeluarin dari bokong gue. Sesuatu itu adalah.... ah, di skip aja, kalau gue kasih tau bentuknya gimana, wananya apa, lembek apa keras, ntar para pembaca jadi pada muntah di depan monitor. Melihat ketidakberesan itu, besoknya gue langsung konsultasi sama nyokap. Disaat-saat seperti ini nyokap memang tempat yang pas buat mengadu. "Mah, perut Feby kok mules gini ya, gak enak banget." "Owh, sama dek, mamah sama papah juga gitu, lagi musim." "Lho, memang ada ya musim perut mules gini, Mah?" "Ya ada lah. Mungk...

Mau Promo Buku Pertama Ah....

Di postingan kali ini gue mau share buku pertama gue bersama Riyan Hasanin . Bukunya secara garis besar bercerita tentang cinta dan persahabatan mahasiswa yang ngekos atau secara genre bukunya adalah komedi romance (emang ada genre kayak itu!). Gue sama Riyan mengerjakan naskah buku ini udah dari tahun kemarin, tapi karena kendala ruang dan waktu (sekarang juga masih sebenarnya), jadinya kita pending dan baru bisa di realisasikan sekarang. Cover bukunya kira-kira seperti ini:   Ya, buku kita diterbitkan melalui penerbit self publishing, LeutikaPrio. Semoga kedepannya kita bisa ke penerbit konvensional. Bukunya total ada 203 halaman yang terdiri dari 10 Bab. Yang berminat beli bisa lihat infonya dan pesan di web LeutikaPrio langsung DISINI atau lewat sms ke LeutikaPrio: 0821 38 388 988, sms aja judul sama nama penulisnya. Selain itu, pemesanan bisa juga lewat twitter @radiokonyol . Kalau mau pesan lewat gue juga bisa. Kontak aja twitter gue, FB gue, YM (foktarista), v...