Thursday, 21 May 2015

Fiksi - Misteri Hilangnya Kucing Persia Salsa (Chapter 1 Bag.1)

Chapter 1
Jonathan dan Pria Berambut Cepak

Niko terus mengamati rombongan anak sekolah yang lewat. Tatapannya sangat tajam seperti ingin menerkam. Semua siswi yang lewat pun merasa ge’er. Maklum, Niko punya tampang yang cukup menggiurkan untuk minimal dijadikan gebetan. Bayangkan, hidungnya mancung, kulitnya putih, matanya rada sipit dan tubuhnya proporsional. Rambutnya yang spikejuga semakin memperkuat daya pikat tersebut. Mirip aktor Korea. Di sebelah kanan Niko, ada Rifky. Seorang cowok dengan style hawai, memakai kaos hitam bergambar ilustrasi pemandangan pantai dan sebuah celana pendek santai yang memiliki kolaborasi warna hijau-hitam. Berbeda dengan Niko yang rupawan, Rifky jauh dari kata menawan. Matanya belo, perutnya mancung dan hidungnya pesek. Rifky sudah berusaha untuk membuat penampilannya lebih oke dengan mengarahkan poni rambut ke kiri, tapi itu sama sekali tak menolong. Sementara itu, di sebelah kiri Niko ada cowok berkepala plontos, berhidung mancung dan memiliki kumis dan jambang tipis. Namanya Jamal. Berbeda dari Niko dan Rifky yang lagi serius melihat sekitar, Jamal justru asyik ngobrol sama tukang siomay yang ada di sebelah kirinya.

Dua jam sebelumnya…

Seorang cewek yang kulitnya kuning langsat, memiliki rambut lurus panjang, tinggi badannya semampai, tapi hidungnya rada pesek mendatangi Niko, Rifky dan Jamal yang lagi makan mie bakso pangsit di kampus. Bisa di bilang, ini kali pertama tiga sekawan itu di datangi langsung oleh cewek yang aduhai.

Jamal menelan ludah setelah melihat cewek itu dan bilang, “Cantik sekali dia!”

“Bidadari turun di kampus…,” kata Niko sambil menggelengkan kepala.

“Mahal nih cewek, guriiih…,” ungkap Rifky.

Gara-gara ucapannya, dahi Rifky langsung di toyor oleh cewek tersebut. Sial, muncul penyesalan yang teramat dalam di dalam hati Niko dan Jamal. Ya, setidaknya ucapan ngawur Rifky tadi mengantarkan jari-jemari lembut si cewek menyentuh kulit non-eksotis Rifky. Rifky yang di toyor sangat bangga akan hal itu.

“Kalian serius bisa nyari hewan yang hilang?” tanya si cewek, “Kenalin, nama gue Salsa,” lanjutnya.

Jamal langsung meraih tangan Salsa, “Kalo saya Jamal Saefudin, anda bisa memanggil saya Jamal. Yes, cukup Jamal saja.”

Niko langsung memisahkan tangan Jamal dan Salsa yang lagi berjabat erat, “Kenalin, gue Niko Syahputra Wijatmoko, panggil aja Niko.”

Rifky tidak mau kalah, ia memisahkan tangan Niko dan Salsa. Apesnya, Salsa langsung mengelak dari ajakan berjabat tangan dari Rifky, “Ya sudah kalo gak mau salaman, nama gua Rifky Hadi Putra, panggil gua Rifky aja yak.”

Salsa mengangguk. Ia kemudian membuka dan merogoh tas baguette merahnya, lalu mengambil sebuah foto. “Nih, namanya Kiki, kucing persia gue. Kemarin dia hilang. Gue, keluarga gue, sama satpam perumahan sudah cari kemana-mana tapi gak ketemu juga,” ucapnya kesal.

Niko, Rifky dan Jamal memandangi foto tersebut. Seekor kucing persia sesuai dengan apa yang diungkapkan Salsa, berumur sekitar 3 bulanan, berwarna dominan putih dengan variasi warna hitam di area kaki dan kepalanya. Niko yang tidak tega melihat Salsa berdiri lalu menyarankan Salsa untuk duduk di atas kursi kayu panjang berwarna coklat di depannya dan menceritakan kronologis kejadian sebelum Kiki menghilang.

Salsa memonyongkan bibir, “Jadi gini, hari minggu, kemarin malem, gue lagi jalan sama cowok gue. Pas balik, eh kucing gue udah gak ada! Kesel deh!”

Niko mendadak serius, tangan kanannya mengusap dagu, “Hmm, ada dua kemungkinan. Yang pertama, kucing itu di culik. Terus yang kedua, kucing itu lagi kawin sama kucing lain di genteng. Nah, selesai kawin, dia mati tragis di lindas truk sampah, jasadnya di mutilasi dan dijadiin daging bakso.”

Salsa langsung menanggapinya dengan melayangkan tas baguette nya ke wajah Niko.

Rifky melipir ke arah Salsa di sebelah kiri, “Di rumah ada siapa aja pas lu lagi jalan sama cowok lu itu?”

Pandangan Salsa ke atas, “Emm, ada Nyokap, Bokap sama adek gue, Fini.”

Jamal mengeluarkan secarik kertas dan pena dari saku bajunya, “Apakah anda merasa ada sesuatu yang aneh di hari sebelumnya? Atau tepatnya kemarin lusa?”

“Ada!” teriak Salsa.

Sontak Niko, Rifky dan Jamal pun jadi semakin antusias. Ketiganya fokus memandangi wajah Salsa yang sedang membara.

“Eh, tapi ragu sih itu mencurigakan apa gak,” ralat Salsa.

Niko dan Rifky kembali lesu. Namun, tidak dengan Jamal, ia merasa segala hal sekecil apa pun mungkin saja bisa menjadi petunjuk, “Oh, tidak apa-apa, anda ceritakan saja,” katanya sambil bersiap menulis.

Salsa kembali berpikir, “Di sabtu sore, sekitar jam tigaan gitu deh, ada anak SMA gitu yang lagi perhatiin rumah gue. Begitu gue liat, dia langsung kabur.”

“Cakep!” seru Niko, “Tapi gimana caranya nyari tuh anak SMA ya?”

Jamal mengelus kepalanya yang botak, “Ya kita cari SMA yang deket dari rumah Salsa lah Nik. Mungkin, tapi perlu di coba.”

“Ganteng!!” balas Niko.

“Tunggu dulu…,” Rifky menoleh ke arah Salsa lagi, “Ciri-ciri tuh anak SMA gimana?”

“Putih, pake kacamata, rambutnya ikal, terus dia pakai jam tangan kulit hitam gitu di tangan kirinya,” ingat Salsa.

“Sip-lah, SMA apa yang paling deket dari rumah lo?” tanya Niko.

“SMA Sentosa Bangsa, iya itu yang paling deket,” balas Salsa.

“Oke, baiklah kalau begitu, nanti selesai ngampus, kita bakal kesana. Anda tidak perlu cemas, karena kasus ini jatuh ke tangan ahlinya.”

“Bagus deh kalo gitu, gue jadi sedikit tenang. Bayaran kalian masih tiga ratus ribu per kasus kan?”

“Sekarang naik jadi empat ratus ribu,” jawab Rifky.

“Buset, mahal ya…”

“Kan bagi tiga,” potong Rifky.

“Ya udah deh gak apa-apa, yang penting Kiki ketemu,” tutup Salsa.

Salsa lalu memberikan nomor handphone dan alamat rumahnya, lalumelengos pergi meninggalkan Niko, Rifky dan Jamal. Di sisi lain, ketiga mahasiswa yang sok jadi ‘detektif’ pencari hewan itu masih cukup bingung walaupun ada satu petunjuk yang bisa di interogasi.
 
***
 
Sudah dua puluh menit berlalu, tapi ciri-ciri cowok yang diungkapkan Salsa tak kunjung ditemukan. Niko yang tadinya berdiri tegap pun mengubah posisinya jadi duduk di atas pinggiran bahu jalan. Rifky lebih parah, ia tidak bisa menahan perutnya yang tambun sehingga tepar begitu saja di sebelah Niko, matanya terpejam dan mulutnya menganga seperti ikan. Sementara itu, Jamal masih asyik berbincang dengan tukang siomay.
 
Namun, penantian itu tidak sia-sia, sekitar lima menit selanjutnya, seorang cowok yang berciri mirip dengan yang dikatakan Salsa muncul di belakang si tukang siomay, “Mang, siomaynya biasa, sepuluh ribu, campur!” tegasnya.
 
Melihat itu, Jamal langsung memegangi pergelangan tangan cowok tersebut. Sementara itu, Niko dan Rifky langsung bangkit untuk menghampirinya.

“Ada apa nih?” si cowok mendadak kaget.
 
“Ada yang mau kita tanyakan kepada anda,” jawab Jamal.
 
“Oh gitu, boleh sih Bang, tanya aja… tapi, tangan gue lepasin dulu, malu di lihat temen-temen gue! Entar mereka ngira kalau kalian temen homo gue Bang kalo kita berpegangan tangan terus.”
 
“…..”
 
“Oke, fine…,” Jamal menuruti permintaan si cowok, “Kita kenalan dulu, saya Jamal dan mereka berdua di sebelah kanan dan kiri saya ini namanya Niko dan Rifky. Nama anda siapa?”

“Jonathan Bachri, Bang.”

“Sip. Jadi gini, kami mau tanya ke anda. Benar tidak anda mengamati rumah seseorang di hari sabtu pukul tiga’an sore gitu?” tanya Jamal sambil bersiap mencatat.

Jonathan menatap ke arah Jamal, Niko dan Rifky bergantian. Wajahnya memerah, “I-iya sih Bang.”

“Kenapa lo ngelakuin itu?” tanya Niko.

“Jadi gini Bang, gue tuh sudah lama naksir sama Fini. Gue mau ke rumahnya, tapi ragu. Eh, pas keberanian gue sudah ngebul, ada cewek gitu yang lagi duduk di teras ngeliatin gue. Jadi malu gue pulang lagi dah.”

Niko, Rifky dan Jamal pun saling bertatapan heran. Mereka jadi tersadar, betapa bodohnya karena tidak menanyakan ke Salsa terlebih dahulu tentang adiknya, Fini.

“Itu Kakaknya, namanya Salsa,” balas Rifky, “Emang lu gak pernah lihat Salsa sebelumnya?”

“Enggak pernah Bang, oh jadi itu kakaknya ya. Gile ye, Kakak adek cantik semua!”

“Cetakannya bagus kali..,” tanggap Niko.

Jonathan memberikan selembar uang sepuluh ribu ke tukang siomay. “Emang kenapa sih Bang, segitunya banget nanyain gue?” lanjutnya.

“Enggak ada apa-apa, kita lagi ngejalanin misi aja nyari kucing persianya si Salsa itu,” jelas Niko.
Jonathan mengernyitkan dahi, “Oh gitu, jadi abang-abang ini detektif gitu ya?”

“Yah, semacam itulah. Kehidupan ini keras anak muda, kita begini untuk nambahin biaya kuliah sama sehari-hari, maklum perantauan,” balas Jamal.
 
“Kalo gitu, bisa gak buat Fini jadi pacar gue Bang?”
 
Jamal mendekatkan wajahnya ke Jonathan, “Kita ini nyari hewan yang hilang doang, bukan biro jodoh!”
 
“Oh gitu. Kalo gue bayar sejuta gimana?” Jonathan mengedip-ngedipkan mata kanannya.
 
Nice offer!” tanggap Rifky.
 
Niko yang mencium aroma inkonsisten dari Rifky pun segera menjitak kepala Rifky dengan tangan kirinya, “Nggak boleh, itu suap!”
 
Sebagai saksi yang bisa saja masih menjadi pelaku, Jonathan akhirnya dibiarkan pergi bersama siomaynya. Tentu saja Jonathan meninggalkan nomor hanphone dan juga akun facebooknya jika sewaktu-waktu diperlukan lagi.

***

Niko, Rifky dan Jamal memutuskan datang ke rumah Salsa pada pukul tujuh lewat sepuluh menit malam untuk memberitahu perkembangan percakapan dengan Jonathan. Rumah sang klien itu bisa di bilang elit. Halaman depannya cukup luas dengan terbentangnya sebuah taman mini dansebuah ayunan untuk melepas penat. Tidak mau berlama-lama, Niko menekan tombol bel yang ada di dekat pagar. Sayup terdengar bunyi bel itu dari luar dan tak lama kemudian muncul Salsa yang memakai kaos berwarna kuning. Rambutnya yang di ikat di belakang membuat Salsa tampak semakin manis malam ini.

Setelah masuk, Salsa mempersilahkan Niko, Rifky dan Jamal untuk duduk di kursi kayu jati bersandaran yang panjang. Sementara itu, Salsa duduk di sebuah kursi yang berbahan sama tapi dengan ukuran ‘single’, yang letaknya tak jauh dari kursi panjang tersebut.

“Jadi gimana tadi? Namanya Jonathan?” buka Salsa.

“Iya, dia emang ngamatin rumah lo ini hari sabtu itu, tapi itu sih semata-mata karena dia suka sama adek lo aja, Fini. Nah, berhubung lo ngeliat dia, jadinya dia urung mau ketemu Fini,” jawab Niko.

Salsa kecewa, “Yah, kalo bukan dia siapa dong?”

Niko mengangkat bahu.

Jeda sejenak, di balik pintu tiba-tiba muncul cewek berkulit putih dan berhidung mancung mengenakan kaos pink dan celana pendek sehingga terlihat jelas pahanya yang mulus. Godaan syahwat itu jelas membuat fokus Rifky, Niko dan Jamal sedikit terpecah antara melihat paha atau memecahkan kasus Salsa.

“Eh, kenalin nih, adik gue, Fini,” ucap Salsa.

Secara bergantian, Niko, Rifky dan Jamal menyambut penawaran menjabat tangan Fini.

“Kak,” Fini bersuara, “Sebenernya, Fini ngeliat orang yang mencurigakan lho kemarin.”

Salsa bengong sebentar. “Hah? Kok gak cerita sih?”

“Yaaa, soalnya kan belum tau juga Kak dia yang ngambil kucingnya apa bukan.”

Seperti biasa, Jamal bersiap mencatat lagi, “Baiklah kalau begitu, coba anda ceritakan apa yang terjadi ketika itu?”

Telunjuk Fini menempel di pipi kanan, “Pas Kak Salsa lagi jalan sama cowoknya, sekitar setengah jam kemudian, aku ngeliat dari jendela kamar kalo ada cowok yang rambutnya cepak gitu berdiri di depan pager.”

“Rambut cepak? Kayak Tukul gitu cepaknya?” tanya Niko.

Fini mengayunkan kedua telapak tangannya ke depan, “Bukan cepak kotak gitu…”

Rifky yang tidak ingin terlihat pasif langsung merespon, “Terus, ada gerak-geriknya yang mencurigakan gak?”

“Ada, orang itu ngeliatin halaman depan rumah gitu, kayak nyari sesuatu,” jawab Fini.

Jamal selesai menuliskan penuturan Fini barusan. “Ada ciri-ciri lainnya selain rambutnya cepak?”

Fini berpikir, pandangannya ke atap. “Emm, dia punya tai lalat gitu di pipi sebelah kiri.”

Kening Niko mendadak berkerut sedemikian rupa. Ia langsung menengok ke arah pagar.

“Oke, gue rasa cukup segitu interview malem ini,” ucap Niko, “Kita bertiga pulang dulu.”

Rifky dan Jamal mendadak bingung dengan keputusan sepihak Niko. Tapi, keduanya tahu, kalau Niko sudah seperti itu, biasanya ia telah mendapatkan sesuatu yang positif. Setelah pamit dengan Salsa dan Fini, Niko tampak memikirkan sesuatu sambil berjalan. Rifky yang merasa aneh dengan sikap Niko yang terus diam sejak meninggalkan rumah Salsa pun langsung bertanya, “Oi Nik, ada apaan sih? Ceritain dong!”

“Iya nih, anda tiba-tiba minta pulang, padahal kan kita lagi nanya ke si Fini itu siapa tau dapat informasi yang bisa membantu kita. Kalau hanya seperti ini kan susah, rambut cepak sama tahi lalat. Kita mau ngobok-ngobok Jakarta untuk ngumpulin orang dengan ciri-ciri seperti itu?” tambah Jamal.

“Gak perlu ke Jakarta keleuuss…,” balas Niko, “Kita sekarang ke pos satpam. Di sini pintu masuk ke dalem perumahan cuman dari gerbang yang ada pos satpamnya. Penjagaannya ketat. Kita tadi aja masuk dimintain KTP.”

“Oke-lah, itu bisa kita pahami. Yang gak gua ngerti tuh kenapa lu udahan begitu aja tadi! Kita kan bisa ngorek-ngorek lebih dalam tentang si cowok berambut cepak itu ke Fini!” Rifky geram.

“Percuma,” Niko memasukkan tangannya ke saku celana, “Enggak bakalan dapet apa-apa. Gue rasa, Fini tadi gak bilang semua fakta yang sebenernya ke kita. Gue tadi ngamatin sekitaran pagar, di sana gak ada lampu, gelap. Terus, gimana si Fini bisa tau kalau tuh cowok punya tai lalat di pipi sebelah kiri sementara dia ngeliatnya dari kamar?”

“Hmm, berarti Fini…,” pikir Jamal.

“Ngeliat wajah si cowok berambut cepak dari dekat,” potong Niko.

Rifky mengepalkan tangan kanannya lalu dihempaskan ke telapak tangan kiri. “Wah, sompret tuh cewek ngibulin kita, untung cakep!” seru Rifky.

“Nah, makanya itu sekarang kita tanyain sama Satpam, pasti tau deh siapa cowok itu. Yah, moga-moga aja kita dapet alamatnya...

“Kita belum tau nih, apakah Fini terlibat atau enggak. Jonathan juga belum sepenuhnya lepas dari pikiran gue, bisa aja pengakuan-pengakuan dia tuh cuman alibi doang.”

Obrolan di tutup. Niko, Rifky dan Jamal menetapkan hati untuk mampir ke pos satpam. Perjalanan dari rumah Salsa menuju pos Satpam sekitar dua ratus meter, cukup jauh. Namun, ketiganya justru bersemangat, tidak sabar dengan informasi apalagi yang akan mereka dapatkan dari para penjaga pintu gerbang perumahan itu.

Bersambung ...

8 comments:

  1. Seperti biasa, lu emang ada bakat nulis cerita2 spionase gini. Kembangin gih, hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha,,, tapi kalo ada bukunya lu beli ye.. :P

      Delete
  2. kereeeeeeeeeeeennnn... lanjutken!!! gue sendiri baru dua halaman...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini yg lain om, bukan untuk yang entu.. :D

      Delete
    2. om??? lu kira gue om lu!? gue kan engkong lu... pegimane si lu!?

      Delete
  3. awesome!
    tapi menurutku dialog nya ada yang bisa dikurangin lagi hehe peace '_' v

    Btw kayaknya sekarang alur maju nggak ngetrend lagi ya..
    Belakangan ini byk bgt nemu fiksi yang pake flashback atau maju mundur atau mundur maju dan seterusnya wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, suka baca tulisan yang paragrafnya luas berarti ente yak, ya entar gw pikirin lagi porsinya. Yoi, alur maju mundur tuh sedap, haha...

      Delete

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑