Monday, 1 June 2015

Fiksi - Misteri Hilangnya Kucing Persia Salsa (Final Chapter 1)

Baca dulu yang sebelumnya DISINI

Pos satpam. Sebuah tempat berbentuk persegi berukuran 6x6 meter. Berpintu kayu berwarna putih dengan sebuah kursi panjang biru di depannya. Di sana terdapat tiga orang berseragam security yang sedang melakukan aktifitas yang berbeda-beda. Ada yang sedang menyambut mobil masuk ke dalam perumahan, ada yang asyik menyeruput kopi dan satu lagi sedang main handphone. Niko, Jamal dan Rifky yang baru sampai di sana pun langsung menghampiri satpam yang sedang berdiri menyambut mobil atau motor yang keluar masuk. Satpam itu masih tergolong muda, tegap dan memiliki alis yang tebal.

“Malam…,” buka Niko sembari mengamati tag nama satpam yang berada di dadanya, “Pak Irwan?”

“Iya, ada yang bisa saya bantu?” Pak Irwan sedikit menunduk dan menadahkan tangan kanannya ke arah gerbang, “Kalau mau pulang silahkan Mas, langsung saja.”
 
“Kita memang mau pulang Pak, tapi ada yang mau kita tanyain dulu nih sebelum pulang.”

“Oh begitu, mau tanya apa ya?”
 
Jamal maju satu langkah. Ia merasa kali ini adalah waktu yang tepat untuk beraksi. “Begini Pak, apakah kemarin malam ada orang berambut cepak dan punya tahi lalat di pipi kirinya masuk ke dalam perumahan ini?”
 
“Oh, setahu saya gak ada ya, tapi tunggu dulu…,” Pak Irwan mendatangi kedua teman satpamnya yang lagi asyik nyantai.  Mereka terlihat sedang ngobrol seru. Tak berapa lama dari itu, Pak Irwan kembali lagi dengan membawa sebuah buku tamu berwarna merah tua dan menunjukkan salah satu halamannya ke Niko, “Kata Pak Wira ada nih, namanya Beni. Alamatnya Jalan Permana Indah nomor. 33A.”

“Sip..,” Jamal mencatat informasi tersebut.

Pak Irwan memasang ekspresi sedikit penasaran, “Emangnya ada apa ya kalian nanya itu?”

“Oh, begini Pak, kucing salah satu penghuni di perumahan ini hilang…,”
 
“Kucing persianya Salsa?” potong Pak Irwan.
 
“Nah, iya itu!” jawab Niko, Rifky dan Jamal serentak.
 
“Oooo, iya-iya, kan saya yang bantu Salsa nyariin sekitaran perumahan. Tapi gak ketemu juga. Kayaknya di bawa makhluk halus deh Mas.”
 
“…..”
 
Pak Irwan langsung menetralkan situasi, “Ah, becanda, di sini mana ada hantu penculik kucing.”
 
“Hah.. ha.. hah… ha…,” tawa Niko terbata-bata.
 
“Lalu, apakah anda melihat Beni keluar perumahan sambil membawa kucing?” tanya Jamal.
 
Pak Irwan menepuk jidat, “Oh iya! Aduh, bodoh sekali saya. Saya lihat, itu orang bawa-bawa kain gitu, warnanya hitam!”
 
“Sip! Ya sudah, terimakasih atas informasinya Pak,” Jamal menjabat tangan Pak Irwan, “Kita pulang dulu,” lanjutnya.

Satu lagi informasi penting didapatkan. Niko, Rifky dan Jamal memutuskan untuk mendatangi rumah orang yang bernama Beni itu besok. Dalam perjalanan kembali ke kosan menggunakan angkot, mereka terus berdebat soal kasus yang sedang mereka kerjakan. Sangat seru sehingga menjadi pusat perhatian penumpang angkot lainnya.

***

Sampai di kosan, mereka memutuskan untuk berkumpul di kamar Rifky terlebih dahulu. Maklum, kamar Rifky adalah kamar yang paling luas, sesuai dengan ukuran badannya. Walaupun besar, Rifky tidak malas merapihkan kamarnya. Lantai keramiknya hampir tidak terlihat noda, baju dan celana jeansnya menggantung dengan semestinya di gantungan pakaian yang menempel di pintu, buku-buku pun tertata rapi di rak. Fasilitasnya juga oke, ada dispenser, televisi LED dan sebuah komputer. Bukan hanya itu saja, banyak juga beraneka ragam cemilan, mulai dari cokelat, chiki, kacang sampai biskuit. Hal-hal itulah yang membuat Niko dan Jamal sangat betah berada di kamar Rifky. Semua dapat dinikmati secara gratis.
 
“Oke, jadi kesimpulan yang kita dapat hari ini apa aja?”
 
“Kalo kata gua Nik, yang ngambil tuh kucing adalah Satpam!”
 
Jamal heran, “Lho, kenapa anda bisa mendapat kesimpulan seperti itu? Apa yang ada di pikiran anda? Coba jelaskan kepada saya dan Niko.”
 
Rifky mengambil sebungkus chiki yang ada di sebelah kanannya. Rasa keju. Ia lalu menyobek bagian atasnya dan mengambil isinya –tiga biji. Sambil mengunyah chiki itu, Rifky menjawab, “Menurut gua, ketiga satpam itu sudah bersekongkol. Pak Irwan ngebantuin nyariin kucing Salsa itu cuman alibi doang. Padahal itu untuk menutupi kejahatannya.”

“Ya kemungkinan itu bisa aja terjadi sih, tapi gimana caranya mereka nyolong tuh kucing?” tanya Niko.
 
“Bayaran keamanan. Iya, jadi salah satu dari mereka nagihin uang keamanan. Ketika perhatian teralihkan, satu orang satpam nyusup ke dalem rumah nyari tuh kucing,” jawab Rifky pede.
 
“Oke, kalo gitu, besok kita tanyain juga ke Salsa kapan satpam nagihin iuran keamanan. Nah, kalo menurut lo gimana Mal?”
 
Jamal diam sejenak. Ia lalu berdiri membelakangi Niko dan Rifky, “Kalau prediksi saya, yang mencuri itu kucing adalah Jonathan. Soalnya, dia tadi nanya ke kita apakah kita detektif gitu. Menurut saya, ada sesuatu yang disembunyikan Jonathan, tapi apa?”
 
Niko mengangguk, “Gue juga mikir kesana. Ada korelasi antara Jonathan, Fini dan cowok berambut cepak.”
 
“Jangan-jangan cinta segitiga, Nik!” sela Rifky.
 
“Cinta segitiga melibatkan kucing Salsa, kakaknya Fini? Hubungannya apaan?”
 
Rifky tersenyum tipis sembari menggaruk-garuk ketiak, “Hehe.. Iya ya, apaan yak?? Nah, itu dia misterinya, bener gak?”

“…..”
 
“Ya sudah. Besok pagi, kita temui lagi Salsa. Kita tanyakan tentang satpam itu kapan minta bayaran keamanan dan ngasih tau ke Salsa perkembangan si cowok cepak. Sekarang, kita main game dulu!”
Niko langsung berlari ke arah komputer Rifky.
 
Rifky langsung membajak satu stick, “Maen bola, Nik!”
 
“Yah, anda tidak bosan main bola? Saya mau main balap!”
 
Terjadilah perdebatan hebat tentang game apa yang akan mereka mainkan. Akhirnya, game sepak bola FIFA-lah yang di pilih. Malam pun habis dengan bermain itu….
 
***

Sesuai dengan perjanjian sebelumnya via sms, Salsa menunggu Niko, Rifky dan Jamal di kantin kampus. Kali ini, Salsa bersama dengan sang pacar yang berambut gondrong ala anak rocker. Begitu mendapati posisi duduk Salsa, ketiga ‘detektif hewan’ itu langsung duduk mengerecoki Salsa yang lagi asyik ngobrol sama pujaan hatinya.
 
“Eh, kenalin, ini nih cowok gue, namanya Rizal,” ungkap Salsa.
 
Niko, Rifky dan Jamal bergantian menjabat tangan Rizal, lalu duduk di tiga kursi kosong yang ada di depan Salsa dan Rizal.
 
“Jadi, ada perkembangan apa nih?” tanya Salsa.
 
Niko mengubah posisi tubuhnya ke depan, “Semalem, kita nanya ke Pak Irwan, security di perumahan lo itu. Katanya, ada cowok yang berambut cepak yang masuk ke dalam perumahan, namanya Beni.”

Salsa semakin penasaran, “Terus, terus?”
 
“Nah, begitu Beni keluar dari perumahan, Pak Irwan ngeliat dia bawa kain hitam gitu. Yaa, mungkin saat itu Pak Irwan gak curiga.”
 
“Terus, kalian tahu di mana Beni itu berada?”
 
“Anda tenang saja, setelah kuliah, kami akan langsung ke rumahnya. Kita sudah tahu alamatnya dari Pak Irwan.”

“Sayang…,” Salsa menggoyangkan tubuh Rizal yang sibuk mengetik handphone.

Rizal tersentak, “Eh, iya sayang. Oh, oke kalo gitu, pokoknya tolong kalian cari kucing Salsa itu sampai dapat ya..,” Rizal tersenyum ke arah Salsa, “Soalnya, tuh kucing pemberian dari saya untuk pacar saya yang paling cantik ini. Tenang aja, bayaran kalian saya yang tanggung.”

“Siap!” balas Niko, Rifky dan Jamal serentak.

“Oh iya, hampir aja gue kelupaan,” sela Niko. “Gue mau nanya nih, lo tau gak kapan security perumahan nagih iuran keamanan?”

Salsa berpikir sejenak, “Liat sih, waktu itu Pak Irwan nagihnya sekitar seminggu yang lalu gitu deh ke Mamah. Emang kenapa?”

Rifky nyengir. “Gak ada apa-apa, cuman insting detektif gua yang salah aja,” ucapnya malu.

“Oke deh kalo gitu, kita cabut dulu ya,” tutup Rifky.

Rizal dan Salsa pun tersenyum. Tampak kepuasan yang cukup dalam dari wajah Salsa. Sementara, Rizal kembali memainkan handphone-nya. Di sisi lain, sambil berjalan ke dalam kelas, Niko, Rifky dan Jamal memasang tampang antusias karena sepertinya kasus ini sudah semakin mengerucut ke satu target tunggal yang bernama Beni. Mereka sangat berharap dari Beni segalanya akan terungkap.

BERSAMBUNG KE CHAPTER 2 ....

4 comments:

  1. Kelanjutan ceratamu kuharap
    Agar penasaranku terungkap
    Menjadi rasa mantap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap deh, hati-hati entar tumbuh kurap.. haha

      Delete
  2. Sialan! Katanya final chapter, eh malah bersambung. -_-

    Jadi penasaran gue

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya maksudnya akhir dari chapter 1.. :D

      Delete

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑