Sunday, 31 July 2011

Tragedi Lepasnya Luki | Part 2 (End)

Sebelum membaca postingan ini, baca terlebih dahulu part sebelumnya disini.

Setiap menit dan setiap jam berlalu, warga sekitar (masih) terus menanti dan mewaspadai kedatangan Luki yang bisa jadi tiba-tiba itu. Pemandangan rumah warga jadi bisa ditebak. Kalo biasanya gak ada yang nyiapin sapu di depan rumah, sekarang banyak yang pajang sapu di depan rumah buat jaga-jaga siapa tau pas lagi duduk-duduk di teras tiba-tiba Luki nyerang. Ilham sebagai pemilik monyet pemakan segala itu terus menanti hewan peliharaannya itu datang ke pelukannya lagi. Ilham selalu rindu akan keberadaan Luki disisinya. Sampai-sampai kehilangan Luki ini udah kayak kehilangan pacar.
 
“Bik, gue sedih banget nih Luki lepas, dimana ya Luki sekarang? Apa dia baik-baik aja sekarang? Makannya gimana ya?”
“Udah tenang aja lo ham, Luki pasti balik lagi, dia tuh monyet yang pinter.”

“Tapi kan dia pasti kedinginan diluar sana.”

“Kagak, gue yakin sekarang Luki ada di pohon-pohon yang banyak daunnya terus berteduh disana. Udah belum lo kencingnya? Keluar yuk ah, sumpah bau banget nih.”

“Ntar lagi.”

“Ya udah gue keluar duluan ya, duit wc-nya udah gue bayar nih.”

Ya, orang kalo udah cinta banget sama hewan peliharaannya pasti akan merasa sangat kehilangan ketika tuh hewan gak menemaninya lagi. perasaan temen gue Ilham tuh sangat wajar dan gue yakin seluruh manusia yang sayang banget sama hewan mengerti akan situasi yang dihadapi Ilham ini. Melihat kegelisahan dan kesedihan Ilham yang tak kunjung selesai, akhirnya kami membentuk tim khusus pencari Luki. Tim ini terdiri dari bocah-bocah termasuk gue di daerah rumah kami. Tim ini kami beri nama Tim penluk (pencari Luki). Inilah daftar anggota tim penluk beserta tugasnya masing-masing:

1.    Feby (gue): Menganalisa setiap kotoran hewan yang ada.
2.    Ilham: Mencari jejak kaki Luki.
3.    Raid: Menganalisa setiap pohon di sekitar komplek.
4.    Geri: Menangkap setiap kucing liar yang lewat untuk diinterogasi.
5.    Argho: Penyuplai makanan ringan.
6.    Riyan. S (beda sama Riyan yang diatas): Bertanya ke warga komplek.
7.    Boninka & Burhan: Gak ngapa-ngapain. (ngaco)
8.    Eci & Ine: Main rumah-rumahan. (makin ngaco)

Tim tersebut kami bentuk dengan tujuan yang mulia dan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Dengan semangat yang berapi-api akhirnya dalam satu hari kita ngelilingin komplek yang luas hanya untuk mencari seekor monyet yang udah ngancurin bola kertas gue. Dendam pribadi gue sama tuh monyet terpaksa harus gue kubur dalem-dalem demi membuat hati temen gue, Ilham, kembali tenang. Akhirnya setiap balik sekolah kami bertekad untuk mencari Luki.

Seluruh tempat kita telusuri mulai dari pohon yang daunnya lebat, tempat sampah, sumur sampai ke kolam belakang, tempat orang biasanya mancing atau mencoba menghilangkan status jomblo.

“Ham, gimana nih, tanda-tanda Luki belum kita dapat?” tanya gue.

“Iya nih memang susah nyari monyet di tempat luas gini. Mungkin gue udah ditakdirkan gak bertemu Luki lagi.”

Raut wajah Ilham terlihat sangat sedih. Dalam keadaan seperti ini, Raid memberikan sentuhan moral yang klasik. Raid memegang pundak Ilham dan menatap Ilham dengan penuh keprihatinan.

“Ham, kita gak akan berhenti mencari Luki. Kita gak akan berhenti buat nolongin lo. Karena lo temen kita. Ya, lo tuh temen kita men. Kita cari lagi ya besok. Cup cup cup..”

Udah dua hari ini daerah kami kehilangan maskot monyet yang biasanya ribut gedor-gedorin kandangnya. Sumpah, kita semua kangen sama suara kandang hasil penggedoran Luki itu. Apalagi sama muka tuh monyet yang cute abis kayak gue (cute-nya ya, bukan monyet-nya).

“Biks, kayaknya gue harus mencari pengganti Luki deh sekarang.”

“Hah? Lo mau nyari pasangan hidup buat pendamping lo itu seekor monyet?”

“Ya bukan lah congek! Gue mau nyari hewan peliharaan lain, mungkin juga monyet lain lagi untuk dipelihara. Kayaknya Luki gak bakal balik lagi deh.”

“Luki pasti balik ham, gue yakin dia pasti balik. Luki pasti kangen dipeluk sama lo lagi. Lo kasih makan kerupuk udang, lo kasih makan jambu busuk.”

Ilham kembali semangat Mendengar ocehan gue tadi. Kita ngobrol-ngobrol lagi mengenai rencana pencarian Luki ini dan kembali mencari Luki keesokan harinya.

“Hari ini kita harus berhasil dapetin tuh monyet. Kalo kemarin kita pake tugas per-orang yang konyol, sekarang kita pake logika. Menurut kalian, kalo jadi Luki kalian pergi kemana?” tanya Raid dengan penuh gairah.

“Hutan!” teriak gue.

“Oke kita gak bakal ketemu sama Luki lagi kalo gitu. Pencarian selesai.”

Sunyi.

“Ah kampret, bilang aja lo pada gak mau bantuin nyari Luki?!” jerit Ilham setengah nangis.

“Haha,. Tenang aja sob, kita hanya bercanda, kalo bahasa Ingrisnya itu, just puding ya?” Raid menoleh ke gue.

“Just kidding Raid,” gue meluruskan.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita cari Luki lagi sampai dapat!” teriak Raid sambil pegangin batang kayu (gak tau nih maksudnya buat apaan).

Kami, tim penluk, kembali mencari Luki dengan hati riang gembira dan akhirnya memutuskan pulang sejam kemudian. Seperti kemarin, hari ini pun kami kembali gagal. Sesampai di daerah rumah, tiba-tiba warga sekitar udah ngumpul sambil ngedumel gak karuan. Ternyata waktu kami mencari Luki tadi, ada seekor kera berkulit coklat yang lewat daerah rumah dan langsung ditangkap sama orang lain, yang punya tuh hewan, terus dibawa pergi jauh-jauh.

Muncul sedikit harapan di benak kami kalo si Luki juga pasti bentar lagi balik.

“Ham, lo sadar gak sih, mungkin monyet yang tadi lewat ada hubungannya dengan Luki,” tanya gue sambil pegangin dagu.

“Apa hubungannya?”

“Gini, monyet tuh kan hewan berkelompok nih, mungkin Luki lepas dari kandang lo itu untuk menjalankan misi mulia dari kelompoknya buat nyerbu kelompok monyet lain yang mau memporak-porandakan dan membuat onar di komplek ini. Bisa dibilang, ini adalah pertarungan antar kelompok monyet ham, pertempuran geng monyet liar!”

“Ngaco lu! Kebanyakan nonton kera sakti sih lu!”

Waktu terus berlalu, kita semua kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat. Namun, sekitar satu jam berlalu, tiba-tiba ada suara anak kecil lagi naik sepeda jerit-jerit kayak ibu-ibu menang arisan. Seluruh warga sekitar langsung keluar rumah.

“Waaaa.. Tolong!! Ada monyet ngejer gue!”

Dan ternyata Luki kembali sambil mengejar anak bersepeda.

Dengan sigap Ilham langsung nangkep Luki lagi. Betapa berbunga-bunganya perasaan Ilham saat itu. Luki pun kembali ke kandangnya, diikat rantai besi dan bersatu lagi dengan ayam di kandang itu. Sejak saat itu gue gak pernah liat Luki kabur lagi. Sekarang monyet itu sudah mati, tenang di alam sana. Yang tertinggal hanyalah sebuah legenda di daerah rumah kami. Legenda tentang seekor monyet yang selalu jadi tontonan anak-anak pada saat itu dan monyet pertama yang ada di daerah rumah kami. Mungkin yang diinginkan Luki saat kabur itu adalah kebebasan seperti halnya manusia. Dan sekarang, Luki sudah mendapat kebebasan itu bersama sang pencipta, kebebasan di tempat yang jauh lebih indah dari bumi ini.

18 comments:

  1. wah seru2 ceritanya..monyet aja sampe segitunya ya..hehe

    ReplyDelete
  2. wah, harus baca awal dulu soalnya inget diki2 samar2, wakwakwakkk . .

    horeee, happy ending si luki . .

    semoga semasa hidupnya dijadikan kenangan dan pelajaran yah, tdk hanya utk empunya, temennya, ttangganya, tapi juga utk yg lain, terutama para pembaca ini :)

    ReplyDelete
  3. ketigax btw ini cerita lucky lepas bisa dua episode,apalagi kalao cerita ttg ebix yg galau?bisa2 season 6 hahhaha btw happy ending gue kirain ada pertempuran melawan belalang :P

    ReplyDelete
  4. mantap tu monyet, kok kayak artis aja ya.
    kayaknya enak ye jadi monyet tu, diperhatiin terus sh.
    tapi sayangnye dia tu sebenarnya juga ingin bebas juga.
    ceritanya kayak artis dan wartawan banged.

    ReplyDelete
  5. monyetnya mati knp feb??
    jangan2 di makan ayam???*lho??*
    koq monyet dikandangin bareng ayam sii??
    koq gue jd byk tanya.. hehehe
    piis ^^

    ReplyDelete
  6. Ngakak lol pas bagian kera sakti
    Hahahahahaha
    Sbagai pembaca teteh mrasa tenang part 2 luki sdh selesai..
    Si luki emg unyu deh..
    Sm kayak febi
    #eh
    :D

    ReplyDelete
  7. yah..kok hepi ending sih.. hmm, kalo meurut versi gw Luki tuh kabur mencari kehidupan yang lebih baik. Dia jadi monyet bayaran profesional di Doger Monyet Keliling. Tapi karena akhirnya bakatnya terlalu dieksploitasi sama pemilik Doger Monyet tanpa diberi umpan balik kehidupan yang layak serta Upah Minimum Regional yang sesuai untuk ukuran Monyet Profesional, akhirnya Luki jengah dan memuutuskan kembali ke pemilik sebelumnya si Ilham. Soalnya di tempat si Ilham, Luki diperlakukan dengan penuh keperimonyetan dan sesuai dengan kaidah Pancasila dan undang-undang dasar 45.
    tapi itu cuman mungkin..

    ReplyDelete
  8. wahh, kasian ka' ilham,, pendamping hidupnya telah tiada. Pasti dia galau tingkat dewa.
    jangan-jangan si luki dikubur di depan rumah ya?
    hehehe

    ReplyDelete
  9. waaahhh..dah jadi penulis sejati nih ceritanya..haha..

    ReplyDelete
  10. Huwaaa... Hepi Ending yg Mengharukan neh!!
    TIM PENLUKnya Kereen tuh kayak diPilem SWAT!!
    Tp gak pake Menganalisa setiap Kotoran Hewan yg Ada, Apalagi pake Menginterogasi setiap Kucing Liar yg Lewat...Gile Lu!!!
    Hwehehee.. PizZ Men . . . JUST PUDING!!!
    Mantaaaf...

    ReplyDelete
  11. kasihan monyetnya peb... kenapa sih pelihara kok jadi kayak nyiksa? *ngomelinPebiPanjangLebar

    ReplyDelete
  12. Buseeeet.
    Kenapa si ilham gak beli yg baru aja?
    Btw orang orang rumahnya mas feby pada manggil "bik bik bik" tuh apa sih? Biksu ya maksudnya?

    ReplyDelete
  13. turut berduka cita sob.. si luki emang unyu yah .. ane bayangin si ilham waktu ketemu luki ,kayak di pilem2 india ,#jogetbawahpohontoge

    ReplyDelete
  14. kalimat terakhirnya hhahha mantep banget :D
    tapi seru ya jadi ada pengalaman "mari menangkap monyet" sama temen sekomplek

    ReplyDelete
  15. si Geri tugasnye oke tuuh.. hahahaa, gak nyangka doi bis abahase hewan..
    turut berduka si LUKI mati.. sabar ye Ham..

    ReplyDelete
  16. biasanya ke sini udah ada yang baru..eh ternyata lum..hehe

    ReplyDelete
  17. hiks hiks...

    happy and sad...
    ending

    ReplyDelete

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑